Usut Tuntas Dana Rp 650 M

Mantan elite GAM, Zakaria Saman atau yang lebih dikenal dengan panggilan Apa Karya angkat bicara soal

Usut Tuntas Dana Rp 650 M
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
ZAKARIA SAMAN, Mantan Elite GAM 

BANDA ACEH - Mantan elite GAM, Zakaria Saman atau yang lebih dikenal dengan panggilan Apa Karya angkat bicara soal dana Rp 650 miliar yang disebut-sebut diperuntukkan bagi mantan kombatan GAM pada 2013 silam. Apa Karya meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh megusut tuntas dana besar yang diduga diselewengkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab itu.

“Dumna trep ka peng nyan, awai loen tanyong watee debat kandidat, troh jino hat hana jeulah lom. (Sudah cukup lama kasus uang itu, dulu saya tanya waktu debat kandidat calon gubernur pada tahun 2017, tapi sampai sekarang belum jelas),” kata Apa Karya yang diwawancari Serambi, Sabtu (13/10).

Apa Karya dimintai tanggapannya sehubungan berita tentang ‘Dana Rp 650 M tak Masuk KUA-PPAS’ sebagaimana dikatakan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh, Dr Chaerul Amir MH saat berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia, Kamis (11/10) atau sehari sebelum posisinya digantikan oleh Irdam SH MH.

Apa Karya adalah orang yang menyoal isu penyelewengan dana Rp 650 miliar tersebut dalam debat kandidat calon gubernur dan wakil gubernur Aceh pada Pilkada 2017, Rabu 11 Januari 2017.

Kala itu, pengelolaan dana hibah tersebut dipersoalkan Apa Karya kepada cagub nomor 4, dr Zaini Abdullah selaku calon gubernur petahana.

“Awalnya uang itu saya tanya ke dr Zaini dalam debat kandidat kan? Sengaja saya tanya, karena saya pun tidak pernah tahu ada uang itu. Saya tanya sama pemerintah yang sah, ke mana uang itu dibawa. Di loen, meu saboh rupia hana meuteumeung peng nyan, meu loen kalon pih tan (Kalau saya, satu rupiah pun nggak dapat, lihat pun nggak pernah),” kata Apa Karya.

Ihwal yang dipertanyakan Apa Karya tersebut menggelinding cepat di ranah publik. Beragam komentar dan tanggapan pun bermunculan. Salah satu pihak yang paling gencar menanggapi kasus itu adalah aktivis LSM antikorupsi.

Sejak 24 Januari 2017 Kejati Aceh mulai menangani kasus itu berdasarkan laporan LSM Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh. Waktu itu Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh adalah Raja Nafrizal. Namun hingga jabatan Raja Nafrizal digantikan oleh Chaerul Amir, bahkan kini Chaerul Amir juga sudah digantikan Irdam, kasus tersebut belum tuntas.

Lantas, bagaimana komentar Apa Karya menyusul pengakuan Kajati Aceh yang menyebutkan uang sebesar itu tak masuk dalam perencanaan anggaran (APBA) tahun 2013?. “Kejati Aceh wajib menyelidiki ke mana uang itu diperuntukkan. Tidak boleh tidak, kasus penyelewengan itu harus diungkap,” kata Apa Karya.

Dengan bahasa Aceh yang kental, Apa Karya melanjutkan, “Kiban dipeugah hana meuho atau hana ditamong lam APBA, geutanyoe kon na Bappeda, SKPA. Nyan Kejati Aceh jak seutot ho diba peng nyan. Ek mungken peng dumnan hana meuho, meunyoe peng kerupuk jeut tapeugah hana meuho, nyoe peng Rp 650 miliar, saboh moto truk han lot nyan (Bagaimana dikatakan nggak tahu atau tidak masuk APBA, kita kan ada Bappeda, SKPA. Jaksa harus telusuri kemana uang itu, nggak mungkinlah uang sebanyak itu nggak tahu kemana, kalau uang kerupuk boleh dikatakan nggak tahu. Uang Rp 650 miliar itu banyak, nggak muat satu truk),” kata Apa Karya sambil tertawa lepas.

Apa Karya mendesak pihak Kejati Aceh untuk serius mengusut kasus tersebut sampai tuntas. “Peng nyan ka rhot bak jalan, jinoe jaksa harus jak seutot bacut-bacut. Soe ba peng nyan, pat rhot peng nyan. Meunyoe nyan han keumah peu jak peugah, jaksa nyan badan hukom, awaknyan dipajoh gaji chit (Uang itu sudah berceceran di jalan, jaksa harus ikuti siapa yang bawa uang itu, di mana jatuhnya. Kalau itu saja tidak bisa, ngapain ngomong. Jaksa itu kan badan hukum yang makan gaji juga),” ujar mantan elite GAM tersebut.

Terakhir, Apa Karya meinta pihak-pihak yang sudah menyelewengkan dana itu untuk mengakuinya secara hukum. Sebab, lama kelamaan, kasus Rp 650 miliar pasti akan terbongkar jika pihak berwajib benar dan secara undang-undang menjalankan tugasnya dalam mengungkap fakta kasus penyelewengan dana besar itu.

“Kasus nyoe lagee bubrang troe umpeun, dinom lam ie dimita eungkot dipajoh, watee ka kemong pruet meuhanjeut treuk ditoh. Payah diseupet-seupet droe baro ulak. Nyan meunan chit, euntek watee kameusoe soe cok peng baro teuhah bandum (Kasus ini seperti binatang kekenyangan. Menyelam ke air makan ikan, setelah kenyang nggak bisa keluar kotoran, harus jungkir balik hingga muntah. Begitulah tamsilan untuk kasus ini, nanti setelah ketahuan barulah terbongkar semua),” demikian Apa Karya.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved