UIN Ar-Raniry Ingin Jadi Pusat Tamadun Islam

Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry terus berupaya mengembangkan metodologi pembelajaran

UIN Ar-Raniry Ingin Jadi Pusat Tamadun Islam
PEMIMPIN Umum Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar berbincang dengan RektorUIN Ar-Raniry, Prof Dr Warul Walidin AK MA saat berkunjung ke Kantor Serambi Indonesia, di Meunasah Manyang Pagar Air, InginJaya, Aceh Besar, Kamis (8/11) 

BANDA ACEH - Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry terus berupaya mengembangkan metodologi pembelajaran dan program-program berbasis Islam untuk mengembalikan Aceh sebagai pusat tamadun (peradaban) Islam. Sebab, dalam catatan sejarah, Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam di dunia.

Demikian disampaikan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr H Warul Walidin AK MA saat bersilaturahmi ke Kantor Harian Serambi Indonesia, di Desa Meunasah Manyang, Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (8/11).

“Aceh dulu pernah menjadi pusat tamadun Islam, bukan hanya di Asia Tenggara, tetapi bahkan dunia,” timpalnya.

Dalam kunjungannya itu, Prof Warul didampingi Wakil Rektor I, H Gunawan Adnan MA PhD, Wakil Rektor II, Dr H Syabuddin Gade MAg, Direktur Pascasarjana, Prof Dr H Mukhsin Nyak Umar MA, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Dr Zaki Fuad MAg, dan Dekan Fakultas Psikologi, Prof Eka Srimulyani MA PhD.

Selain itu hadir juga Wakil Dekan I Fakultas Syariah dan Hukum, Dr Jabbar MA, Kabag Kelembagaan dan Humas, Drs Fuadi Zulkifli, Kasubbag Humas dan Informasi, Nazaruddin SE, Kepala Pusat Pengembangan Standar Mutu pada Lembaga Penjamin Mutu UIN, Dr Syarwan MLIS, dan presiden mahasiwa serta mahasiwa kampus tersebut.

Rombongan disambut oleh Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar, Pimpinan Perusahaan, Mohd Din, Sekretaris Redaksi Bukhari M Ali, Manajer Sirkulasi, Saiful Bahri, dan Manajer Promosi dan Event Organizer, M Jafar.

Dalam pertemuan tersebut, Prof Warul menceritakan bahwa pada zaman kesultanan Aceh, Bandar Aceh Darussalam yang kini bernama Banda Aceh sangat terkenal dengan Jami’ah Baiturrahman (lembaga pendidikan). Jami’ah Baiturrahman itu melahirkan tokoh-tokoh dan ulama dari berbagai daerah.

“Kita tahu bahwa banyak tokoh dari sana akhirnya menjadi pengarang luar biasa, seperti Syeikh Nurdin Ar-Raniry, Syeikh Abdur Rauf al-Singkily, Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani, dan lainnya. Itu sebagai petanda bahwa secara historis, kita memiliki sejarah yang panjang mengenai perkembangan peradaban dan telah menjadi sentrum peradaban dunia pada saat itu,” ungkap Prof Warul.

Untuk mengembalikan tamadun tersebut, sambung Prof Warul, UIN Ar-Raniry telah menjadikannya sebagai visi kampus dengan melakukan berbagai kegiatan dan program. Seperti pengembangan bahasa Arab terbaik di dunia dan metodologi pendidikan berbasis Islam.

“Saat ini kami mengembangkan UIN dengan integrasi dan koneksitas keislaman, sains modern, dan nilai-nilai kebangsaan. Saya kira ini penting sekali kita kembalikan marwah, harkat, dan martabat keilmuan dan tamadun Islam Aceh menjadi sentrum peradaban Islam dunia,” kata mantan dekan Fakultas Tarbiyah pada tahun 2000-2001 ini.

Program pengembangan yang sedang digagas UIN, antara lain, membentuk Balee Raya Seumeubeut dengan mengundang ulama-ulama karismatik Aceh untuk mengajarkan mahasiswa dan tenaga pengajar di kampus tentang kitab-kitab yang diajarkan di dayah-dayah seperti kitab Tuhfah, Mahalli, dan kitab kuning lainnya. Sehingga terjalin sinergisitas cara pandang antara keilmuan yang sifatnya dari dayah dan kampus.

Selain itu, UIN juga akan membangun Fakultas Kedokteran dan rumah sakit yang dikemas secara islami serta program lainnya. Menurut dia, sudah saatnya UIN mengembangkan ilmu kedokteran ala Rasullullah yang dipraktikan para ulama dulu. “Sudah saatnya kita mengembalikan ruh kedokteran yang berbasis kepada nilai-nilai islami. Kalau nanti anak-anak kita disuntik, harus selalu mengawali dengan bismillah,” kata Prof Warul.(mas/una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved