Kasus Debu Batu Bara, GeRAK Surati Komnas HAM

LSM Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat telah menyurati Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)

Kasus Debu Batu Bara, GeRAK Surati Komnas HAM
Serambinews.com
Batu bara berserakan di Pantai Meulaboh, Rabu (18/2/2015) 

SUKA MAKMUE - LSM Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat telah menyurati Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Provinsi Aceh terkait penyelesaian pencemaran debu batu bara yang terjadi di Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir Nagan Raya, dan Peunaga Cut Ujong, Aceh Barat.

Persoalan debu batu bara yang terjadi sejak beroperasinya PT Mifa Bersaudara, PLTU, dan PT Bara Energi Lestari (BEL) itu, hingga saat ini belum ada penyelesaiannya. Sementara warga terus mengeluhkan kondisi tersebut, karena setiap harinya debu batu bara hinggap ke dalam rumah mereka, sehingga menyebabkan sebagian perekonomian warga mati, seperti penjual nasi yang tidak bisa berjualan lagi akibat debu tersebut.

Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syah Putra kepada Serambi, Jumat (9/11), mengatakan, pihaknya meyurati Komnas HAM, beberapa waktu yang lalu, supaya segera memanggil pihak perusahaan dan pemerintah setempat agar dapat menyelesaikan masalah pencemaran debu batu bara yang menjadi keluhan warga. “Sedangkan, soal tuntutan warga untuk dilakukan ganti rugi tanah dan rumah mereka di sekitar perusahaan PLTU dan PT Mifa Bersaudara, belum ada kejelasan, baik dari pihak perusahaan, maupun dari Pemerintah Nagan Raya dan Aceh Barat,” ujarnya.

Disebutkan dia, para warga di sekitar perusahaan batu bara tersebut sudah tidak nyaman lagi berdomisili di wilayah itu, akibat pencemaran debu batu bara setiap harinya. Diharapkan, adanya keterlibatan Komnas HAM mampu mempercepat penyelesaian kasus debu batu bara yang sudah bertahun tahun-tahun diderita warga setempat.

“Sebagai bentuk kemanusiaan, kita butuh keterlibatan dari Komnas HAM untuk ikut menangani masalah pencemaran debu batu bara. Kita juga mengharapkan keterbukaan dari Pemerintah Nagan Raya yang telah berjanji membentuk tim investigasi dan penyelesaian keluhan warga tersebut,” ungkap Edy Syah Putra. “Apalagi, pihak Komnas HAM juga telah pernah turun ke lapangan guna memastikan keluhan warga menyangkut dengan batu bara,” imbuhnya.

Diterangkan dia, debu batu bara yang masuk ke dalam rumah warga berasal dari tempat penyimpanan hasil tambang (stockpile) yang berada dekat perumahan warga. Stockpile itu masing-masing milik PLTU berada di Dusun Geulanggang Meurak, Nagan Raya dan kepunyaan PT Mifa Bersaudara yang berlokasi di Penaga Cut Ujong, Aceh Barat.

“Kita berharap, pihak PLTU dan PT Mifa Bersaudara punya niat baik untuk memenuhi keinginan warga menyangkut ganti rugi rumah dan tanah, supaya warga dapat mencari tempat bermukim yang jauh dari lokasi stockpile yang menjadi penyebab derita mereka selama ini,” harapnya.(c45)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved