Abu Razak: Kader Kita Tetap Bisa Bersaing di Parlemen

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPA Partai Aceh (PA), Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak akhirnya angkat bicara

Abu Razak: Kader Kita Tetap Bisa Bersaing di Parlemen
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak) 

BANDA ACEH - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPA Partai Aceh (PA), Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak akhirnya angkat bicara terkait fenomena banyak caleg DPRA saat ini yang lulusan Paket C. Menurutnya, anggota dewan yang jebolan pesantren atau Paket C juga bisa bersaing dengan lulusan pendidikan tinggi di dalam parlemen.

“Anak-anak kita, kader, atau dewan kita yang berasal dari dayah juga mampu bersaing dengan orang yang bersekolah tinggi, sama juga kemampuannya kita lihat,” kata Abu Razak saat dimintai komentarnya oleh Serambi, Selasa (4/12), menanggapi liputan eksklusif Harian Serambi Indonesia edisi kemarin berjudul “Mayoritas Caleg DPRA Paket C”.

Sebelumnya diberitakan, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh merilis data yang memuat jenjang pendidikan caleg DPRA dari 20 partai politik peserta Pemilu 2019. Dari 1.298 orang yang masuk dalam daftar calon tetap (DCT), lebih separuhnya lulusan sekolah menengah atas (SMA)/sederajat (Paket C atau lulusan pesantren).

Abu Razak menyampaikan kemampuan seseorang tidak semata dilihat dari jenjang pendidikan saja, tapi seberapa mampu orang itu bisa menyelesaikan masalah yang ada. Meskipun caleg PA ada dari tamatan pesantren, tapi mereka tetap bisa bersaing ketika duduk di parlemen.

Itu sebabnya, lanjut Abu Razak, PA mampu menguasai parlemen Aceh selama dua periode secara berturut-turut. Prestasi ini tentu diraih dari besarnya kepercayaan masyarakat kepada kader PA pada setiap pemilu. Bukan karena persoalan mereka berpendidikan tinggi atau tidak.

“Hari ini di beberapa komisi di DPRA, Partai Aceh yang kuasai. KIP jangan coba-coba melemahkan kader PA, ini tahun politik. Yang penting saat mendaftar sebagai calon sudah sah meskipun berijazah SMA. Jangan banding-bandingkan lulusan SMA dengan doktor,” ujarnya.

Abu Razak menyampaikan, adanya dewan PA yang tamatan pesatren karena pada zaman konflik mereka tidak bisa bersekolah tinggi. Kendati demikian, bukan berarti mereka tidak mampu secara politik. Bagi pihaknya, ijazah bukan persoalan, yang penting orang yang ditempatkan tersebut amanah terhadap konstituennya.

Pendapat ini senada dengan pernyataan akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Fairus M Nur Ibrahim MAg yang menyatakan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata-mata dilihat dari aspek kecerdasan intelektual atau pendidikan, tapi juga dipengaruhi aspek kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

“Setiap orang harus dilihat dari setiap dasar yang berbeda-beda. Orang yang walaupun hanya lulus Paket C, tapi punya pengalaman dari aspek lain, tetap berpotensi untuk menjadi pemimin atau orang yang amanah,” kata Fairus yang juga Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry dan penulis buku Qalbu Bukan Hati ini. (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved