PA dan PNA Bersatu pada Milad GAM

Peringatan milad ke-42 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang digelar di kompleks makam Tgk Hasan di Tiro

PA dan PNA Bersatu pada Milad GAM
SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
Peserta Milad GAM ke 42 saat mengikuti pengajian dan doa bersama di Lapangan Kampungdurian, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, Selasa (4/12/2018). 

BANDA ACEH - Peringatan milad ke-42 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang digelar di kompleks makam Tgk Hasan di Tiro di Kemukiman Meureue, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Selasa (4/12) tampak berbeda dari sebelumnya. Milad tahun ini lebih berwarna karena bersatunya pengurus Partai Aceh (PA) dan Partai Nanggroe Aceh (PNA) dalam satu acara.

Selama ini peringatan milad GAM yang dipusatkan di kompleks pusara mantan wali nanggroe Aceh, Tgk Hasan di Tiro itu hanya dihadiri pengurus PA. Tapi kali ini juga diramaikan oleh pengurus PNA. Ini tahun pertama bagi PA dan PNA merayakan milad secara bersama sejak partai pimpinan Irwandi Yusuf itu lahir pada tahun 2012.

Tentu ini menjadi pemandangan yang langka lantaran kedua partai lokal (parlok) ini selalu terlihat panas dalam pentas politik Aceh. Namun, peringatan milad GAM telah menyatukan kedua kubu tersebut. Pengurus PNA dan PA yang sebagiannya juga tergabung dalam Komite Peralihan Aceh (KPA) tampak berbaur di bawah tenda.

Peringatan milad GAM yang dibalut dengan zikir dan doa bersama serta menyantuni anak yatim itu menjadi lebih bermakna. Tampak hadir dalam acara itu, Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haythar, Wakil Ketua KPA Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak, Abi Lampisang, sejumlah ulama Aceh, Ketua KPA Aceh Rayeuk Saifuddin Yahya alias Pak Cek, Anggota DPRA dan DPRK dari PA, serta kader dan caleg dari PA.

Dari PNA hadir Sekretaris Jenderal (Sekjen) PNA, Miswar Fuady, Darwati A Gani, M Nur Djuli, dan sejumlah pengurus lainnya. Pada acara itu mereka kompak mengenakan seragam kebesaran PNA berwarna orange. Selain itu, juga hadir anggota perunding GAM di Helsinki, Munawar Liza.

Sekjen PNA, Miswar Fuady kepada Serambi menyampaikan bahwa kehadiran pihaknya pada peringatan milad GAM tersebut atas sebuah kesadaran dan instruksi Irwandi Yusuf selaku ketua umum partai itu. Menurutnya, dinamika politik yang terjadi selama ini tidak menguntungkan bagi pertumbuhan parlok di Aceh.

“Bagi PNA dan PA ini kesadaran bersama untuk merayakan milad ke 42 tahun GAM. Karena memang kedua partai lokal ini lahir dari rahim yang sama yaitu MoU Helsinki dan UUPA. Kita sadar bagaimana pada Pileg 2019 PA dan PNA harus bisa mendominasi DPRA agar aspirasi masyarakat bisa terpenuhi,” kata Miswar.

Tuntaskan Butir MoU
Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haythar dalam sambutannya kembali menyentil persoalan belum direalisasinya semua butir-butir MoU Helsinki dan turunannya oleh pemerintah pusat. Padahal, usia perdamaian telah berumur 13 tahun sejak tercapainya kesepakatan perdamaian antara GAM dan RI pada 15 Agustus 2005.

Salah satu di antaranya adalah persoalan bendera sebagai wujud kekhususan Aceh. “Persoalan bendera harus segera diselesaikan agar bisa segera dikibarkan di seluruh Aceh, mulai dari gampong, sekolah, perumahan, hingga perkantoran swasta dan pemerintah Aceh,” kata Malik.

Terlebih persoalan bendera telah disahkan oleh DPRA dengan terbitnya Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Karena itu, pemerintah pusat tidak perlu terlalu sensitif terhadap persoalan itu, tapi wajib menghormati Pemerintah Aceh dengan kewenangan yang telah diberikan untuk mengatur pemerintahannya sendiri. (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved