Dewan Minta Kawasan Ulee Lheue Diterangi

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh meminta Pemko melalui dinas terkait untuk menambah penerangan

Dewan Minta Kawasan Ulee Lheue Diterangi
Gelombang besar melewati tanggul pemecah ombak di Gampong Jawa, Banda Aceh, Selasa (24/5/2016). Gelombang tinggi akibat hujan dan angin kencang mengakibatkan terhentinya operasional pelayaran dari Ulee Lheue, Banda Aceh ke Balohan, Sabang maupun sebaliknya. SERAMBI/BUDI FATRIA 

* Dinilai Rawan Khalwat

BANDA ACEH - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh meminta Pemko melalui dinas terkait untuk menambah penerangan di pinggir Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, yang menghubungkan Punge ke Ulee Lheue. Kawasan remang-remang itu dinilai rawan khalwat, karena sering ditongkrongi pasangan nonmuhrim sambil menikmati jajanan yang disediakan sejumlah PKL di sana.

Informasi itu diungkapkan Anggota Komisi A DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST kepada Serambi, Rabu (2/1). Ia mendapat banyak laporan dari masyarakat terkait khalwat yang semakin sering ditemukan di kawasan itu. “Temuan kami ada di beberapa tempat di Banda Aceh. Namun lumayan banyak di deretan Kantor Disbudpar di kawasan Ulee Lheue,” ujarnya.

Menurut Irwansyah, ada banyak muda-mudi non muhrim bermesraan di kawasan remang-remang itu. Bahkan menurut pengakuan masyarakat di sekitar lokasi, setiap malam ada belasan hingga puluhan pasangan muda-mudi berkhalwat di area minim pencahayaan itu. “Fenomena ini sangat mengkhawatirkan. Kita sudah mendapat teguran dari Allah berupa bencana tsunami, jangan sampai musibah ini terjadi lagi,” ujarnya.

Untuk mengatasi masalah itu, Irwansyah berharap Pemko Banda Aceh melakukan empat hal. Pertama, Pemko harus menambah penerangan jalan di kawasan itu untuk mengantisipasi perbuatan khalwat. Kedua, PKL di kawasan itu harus menyediakan lampu untuk menerangi kursi-kursi yang mereka susun untuk meminimalisir peluang maksiat. “Ketiga, patroli WH harus diperketat. Kalau tidak efektif juga, maka cara terakhir yaitu mencabut izin usahanya,” jelasnya.

Dia menambahkan, ada sejumlah tempat rawan maksiat di Banda Aceh yang bercirikan minim penerangan. Oleh karena itu pihaknya meminta dukungan para pedagang dan pemilik tempat usaha untuk mendukung program ‘Banda Aceh Gemilang dalam Bingkai Syariah’. “Ini menjadi refleksi tahunan bagi kita semua. Semua yang sifatnya remang-remang harus diterangi karena mengundang pelanggaran syariat,” pungkas Irwansyah.(fit)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved