Warga Sempat Segel Kantor Keuchik Rameuan

Warga Gampong Rameuan, Kecamatan Suka Makmue, Nagan Raya, sempat menyegel kantor keuchik

Warga Sempat Segel Kantor Keuchik Rameuan
IST
KONDISI Kantor Keuchik Rameuan, Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya saat disegel oleh warga, Sabtu (12/1) malam. Berita di halaman 18

* Dana 2018 tak Cair

SUKA MAKMUE - Warga Gampong Rameuan, Kecamatan Suka Makmue, Nagan Raya, sempat menyegel kantor keuchik tersebut, Sabtu (12/1) sekitar pukul 21.00 WIB. Hal ini diduga akibat kebijakan keuchik setempat, Syatari, yang dinilai tidak terbuka terhadap pembangunan gampong itu menggunakan dana desa 2017, sehingga pembangunan itu tak sesuai harapan masyarakat. Sedangkan pada 2018, dana desa malah tak dicairkan, sehingga tak ada pembangunan sama sekali.

“Selain itu, penyegelan ini juga karena tak ada pertanggungjawaban dana desa 2017 secara jelas kepada masyarakat. Kemudian, pada 2018, selain tak ada pembangunan, kami aparatur desa, termasuk Tuha Peut juga tak ada honor sama sekali,” kata Ketua Tuha Peut Rameuan, Abdullatif, kepada Serambi, Minggu (13/1).

Menurut Abdullatif, warga menuntut keuchik tersebut segera segera mengundurkan diri karena dinilai tak mampu menjalankan roda pemerintahan desa. Selain itu, pembangunan desa juga tak jalan, sehingga hal ini sangat merugikan masyarakat setempat.

Penyegelan kantor desa itu menggunakan papan kayu yang dipaku pada pintu depan kantor keuchik tersebut sempat berlangsung beberapa jam. Tidak lama setelah itu, palang tersebut dibuka kembali setelah pihak Camat dan Kapolsek Seunagan mendatangi lokasi untuk memediasi dengan warga setempat.

Dikonfirmasi Serambi secara terpisah kemarin, Keuchik Rameuaan, Syatari, mengatakan pembangunan 2017 sudah dilaksanakan sesuai tercantum dalam Anggaran Pendapatan Belanja Gampong (APBG) murni, sesuai ketentuan dan tak ada anggaran yang merugikan. Sedangkan menyangkut tak dicairkan sama sekali dana desa 2018, kata keuchik, itu bukan kesalahannya, melainkan memang ada larangan dari sebagian warga ketika itu karena mereka masih kurang jelasnya laporan pertanggungjawaban dana desa 2017.

“Sehingga pembangunan fisik 2018 tidak bisa dilakukan, termasuk tak ada gaji aparatur desa, termasuk gaji saya sendiri,” jawabnya. Keuchik menambahkan dirinya sudah berupaya memberi pemahaman tentang kondisi anggaran desa yang demikian, namun ada beberapa warga tidak mau memahaminya.

“Saya menjabat sebagai keuchik pada Agustus 2017. Saat itu saya hanya meneruskan pembangunan keuchik lama sebagaimana perencanaan yang sudah ada. Namun demikian mungkin ada juga kesalahan saya, tetapi seharusnya semua aparat desa bisa memahaminya, apalagi semua aparatur gampong itu penerus lama yang hingga saat ini satu pun belum ada yang saya ganti,” jelas Syatari. (c45)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved