Pekerja Asal Cina Menyalahi Visa

Sebanyak 51 tenaga kerja asing (TKA) asal Cina yang bekerja pada PT Shandong Licun Power Plant Technology Co.Ltd

Pekerja Asal Cina Menyalahi Visa
FOTO HUMAS PEMERINTAH ACEH
PETUGAS Disnakermobduk Aceh menyerahkan nota pemeriksaan kepada tenaga kerja asing di mess karyawan PT Shandong Licun Power Plant Technology co Ltd, kompleks PT Lafarge Cement Indonesia, Lhoknga, Aceh Besar, Jumat (18/1). 

* Di Perusahaan Mitra PT Lafarge Cement Indonesia

BANDA ACEH - Sebanyak 51 tenaga kerja asing (TKA) asal Cina yang bekerja pada PT Shandong Licun Power Plant Technology Co.Ltd yang merupakan mitra PT Lafarge Cement Indonesia, Lhoknga, Aceh Besar, kedapatan tidak mengantongi izin bekerja sesuai dengan dokumen Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) yang telah disahkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Adanya serombongan warga negara asal Cina yang bekerja di Lhoknga diketahui setelah Tim Pengawasan Ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) Aceh yang dipimpin Kabid Pengawasan Ketenagakerjaan, Putut Rananggono didampingi Kepala Seksi PNK-Jamsospa dan Pengawas Ketenagakerjaan, Ichwan beserta dua staf pengawas melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke perusahaan itu, Selasa 15 Januari 2019.

Informasi tersebut diketahui Serambi dari Juru Bicara Pemerintah Aceh, Wiratmadinata, Jumat (18/1). Menurut Wiradmadinata. semua pekerja tersebut berkerja pada PT Shandong Licun Power Plant Technology Co.Ltd yaitu perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi yang lokasinya satu kawasan dengan PT Lafarge Cement Indonesia.

Wira menjelaskan, dari dokumen yang dimiliki TKA tersebut menyebutkan bahwa izin kerjanya yang diberikan untuk sektor konstruksi, tapi faktanya mereka bekerja pada sektor eksplorasi pertambangan. “Berarti mereka menyalahi visa. Harusnya mereka bekerja di bidang konstruksi bukan di bidang pertambangan,” katanya.

Dari hasil sidak ditemukan 50 TKA Cina menyalahgunakan izin bekerja yang tertulis dalam visa. Selain 50 orang tersebut, Tim Disnakermobduk Aceh juga menemukan satu TKA lainnya yang juga dari Cina tanpa dokumen apapun. Artinya, satu orang itu masuk ke Indonesia secara ilegal.

“Pak Plt Gubernur Aceh kemarin mengatakan, untuk pelanggaran yang seperti ini harus ditindak dan diberi sanksi yang betul-betul tegas, tidak boleh main-main. Tidak ada kompromi masalah ini,” kata Wira mengutip pesan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Wira melanjutkan, selama ini perusahaan PT Shandong Licun Power Plant Technology Co.Ltd mempekerjakan tenaga kerja asing sejak 2009 namun selalu berganti setiap tahunnya. Sementara ke-50 TKA yang melanggar dokumen tersebut, kata Wira, telah bekerja selama setahun.(mas)

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Wiratmadinata juga menginformasikan, awalnya pihak Disnakermobduk Aceh hanya ingin memulangkan atau mengembalikan 26 tenaga kerja asing (TKA) asal Cina yang melanggar visa dan satu orang yang masuk secara ilegal kepada perusahaan outsourcing atau pengerah jasa di Jakarta sebelum dideportasi oleh pihak Imigrasi.

Pertimbangannya, menurut Wira, apabila semua TKA dikeluarkan bersamaan ditakutkan akan berefek pada macetnya pekerjaan pada PT Lafarge Cement Indonesia. Makanya, dikembalikan dulu 26 orang pada tahap pertama dan 25 orang lagi diminta untuk memperbaiki dokumennya. “Karena kita juga ada kepentingan supaya PT SAI (PT Lafarge Cement Indonesia) tidak macet,” kata Wira.

Namun, kata Wira, surat Disnakermobduk Aceh tentang permintaan untuk mengembalikan TKA ke perusahaan pengerah jasa itu tidak diproses oleh perusahan tempat TKA itu bekerja. Akhirnya, atas arahan Plt Gubernur Aceh diambil sikap untuk memulangkan ke-51 pekerja itu ke pihak pengerah jasa di Jakarta untuk kemudian diproses oleh Imigrasi untuk dideportasi ke negaranya.

“Besok (hari ini, Sabtu, 19 Januari 2019) jam 6 sore kita akan mengeksekusi dengan melibatkan Polda. Posisi mereka sekarang masih di Lhoknga, mereka tidak ditahan karena tidak ada wewenang Disnakermobduk Aceh untuk menahan,” kata Wiratmadinata dalam keterangannya kepada Serambi, kemarin.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved