Jembatan Putus Harus Dibangun

Wakil Ketua I DPRA, Sulaiman Abda, mendesak pemerintah untuk segera membangun kembali dua jembatan

Jembatan Putus Harus Dibangun
SERAMBI/HERIANTO
WAKIL Ketua DPRA, Sulaiman Abda, naik rakit di lokasi jembatan gantung yg sudah putus di Gampong Siron Blang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Selasa (29/1). 

* Agar tak Anak-anak Tetap Bersekolah

BANDA ACEH - Wakil Ketua I DPRA, Sulaiman Abda, mendesak pemerintah untuk segera membangun kembali dua jembatan gantung di Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, yang ambruk setelah dihantam banjir besar, Jumat, 21 Desember 2018. Pasalnya, dua jembatan gantung yang putus itu merupakan akses keluar masuk bagi warga, terutama bagi anak-anak untuk pergi ke sekolah.

Desakan itu disampaikan Sulaiman Abda saat meninjau dua jembatan gantung yang ambruk, di Gampong Siron Blang dan Keuraweung Blang, bersama anggota DPRK Aceh Besar, Ansari. “Pemerintah harus segera membangun dua jembatan gantung yang putus itu. Sebab jika terus dibiarkan, dikhawatirkan akan mengganggu aktifitas warga, terlebih bagi anak-anak yang sedang menuntut ilmu,” jelasnya.

Dia menyarankan pemerintah agar menggunakan pos anggaran tanggap darurat untuk membangun jembatan gantung tersebut. Anggaran tanggap darurat dialokasikan dalam APBK maupun APBA, tujuannya untuk menangani masalah seperti jembatan putus maupun bencana alam.

“Jika Pemerintah Aceh Besar dan Pemerintah Aceh, kasihan dengan masyarakatnya, segeralah bertindak. Bangun kembali jembatan gantung yang putus itu. Tidak harus menunggu usulan tahun anggaran baru 2020, baru jembatan itu dibangun,” kata Sulaiman Abda.

Sulaiman Abda mengaku prihatin dengan kondisi yang dihadapi warga, terutama para murid TK dan SD yang harus menyeberangi sungai untuk pergi ke sekolah dengan menggunakan perahu dengan penuh risiko. Keprihatinan itu semakin bertambah, setelah dirinya menerima informasi seratusan murid yang terancam tak bersekolah menyusul ambruknya jembatan gantung itu.

“Ini harus segera diselesaikan, sehingga tak mengganggu semangat belajar anak-anak. Jika terus seperti ini, kita khawatir mereka (anak-anak) akan putus sekolah karena takut menyeberang, terlebih jika kondisi air sungai naik,” ujarnya.

Kehadiran Wakil Ketua I DPRA dan anggota DPRK Aceh Besar ke lokasi jembatan gantung yang putus itu, dimanfaatkan oleh Keuchik Siron Blang, Mustafa dan Keuchik Siron Krueng, Amrizal. Keduanya berharap jembatan gantung yang putus itu bisa segera dibangun kembali.

Sejak putusnya jembatan itu akhir tahun lalu, kata Mustafa, pihak BPBD Aceh Besar memang telah membantu satu unit boat karet untuk menyeberangkan warga, terutama anak-anak yang pergi ke sekolah. “Karena kapasitas boat karet itu kecil, warga terpaksa membuat rakit darurat untuk bisa menyeberangkan sepeda motor penduduk yang ingin mencari nafkah,” tandasnya.

Menanggapi keluhan dua keuchik tersebut, Wakil Ketua I DPRA, Sulaiman Abda menyarankan agar seegra membuat surat permohonan kembali pembangunan jembatan gantung yang baru untuk menggantikan jembatan gantung yang sudah putus kepada ke Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dengan ditembuskan ke Bupati Aceh Besar dan DPRA.

Solusi lain adalah menggirim surat yang sama kepada Plt Gubernur dan Pangdam IM, untuk dibangun jembatan darurat, seperti jembatan bailey, agar bisa dilalui anak sekolah dan sepeda motor.

Kalau masyarakat Siron, dibiarkan terus menggunakan rakit selama 24 bulan, sementara sekali naik rakit harus bayar Rp 5.000/unit sepeda motor, hal itu akan menjadi beban berat bagi masyarakat.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved