Jantung Bayi Bisa Bocor oleh Rubella

Kasus bocor jantung pada bayi tidak hanya disebabkan oleh faktor keturunan, konsumsi obat-obatan keras

Jantung Bayi Bisa Bocor oleh Rubella
IST
HERLINA DIMIATI, Ketua IDAI Aceh

BANDA ACEH - Kasus bocor jantung pada bayi tidak hanya disebabkan oleh faktor keturunan, konsumsi obat-obatan keras, dan faktor eksternal seperti radiasi. Akan tetapi, rubella syndrome (kumpulan gejala dari infeksi rubella) pada ibu hamil pun berpeluang besar’membocorkan’ jantung bayi. Bahkan dampak yang ditimbulkan dari rubella lebih parah lagi, bayi juga berpotensi kuat menderita cacat pada lensa mata (katarak bawaan), cacat saraf pendengaran (hearing loss/tuli), dan cacat pada organ otak (otak kecil/mikrosefali).

Pada dasarnya, deteksi gangguan yang diakibatkan virus rubella pada janin bisa dilakukan sejak trimester pertama lewat pemeriksaan ultrasonografi (USG). Namun sayangnya, USG hanya bisa mendeteksi jantung dan otak janin saja. Sedangkan cacat mata berupa katarak bawaan dan cacat pendengaran baru bisa terdeteksi secara detail saat bayi sudah lahir, yang mana lensa mata bayi akan tampak keruh dan tidak ada refleks terhadap suara yang ia dengar.

Hal itu diungkapkan Dr dr Herlina Dimiati SpA-(K) kepada Serambi saat ditanya tentang dampak rubella terhadap bayi merespons liputan eksklusif koran ini yang dipublikasi Senin (28/1) berjudul Kasus Bocor Jantung Tinggi di Aceh.

Menurut Herlina, cacat jantung dan lainnya pada bayi akibat rubella sebenarnya dapat dicegah lewat vaksinasi Measles atau campak dan Rubella (MR). Imunisasi MR bertujuan memutus mata rantai virus rubella. “Dengan vaksinasi massal akan terjadi kekebalan komunitas, sehingga infeksi rubella di komunitas yang di dalamnya ada ibu hamil itu bisa menurun. Kalau tidak ada kekebalan komunitas maka semua orang bisa tertular rubella,” ujarnya.

Sebab, lanjut Herlina, kasus rubella itu sangatlah kompleks. Kasus jantung bocor pada bayi mungkin bisa teratasi dengan pemberian obat saat bayi baru lahir. Namun, ada tiga kecacatan lainnya yang harus ditangani secara bertahap dan memakan biaya sangat besar. “Rata-rata semua organ penting itu cacat. Matanya harus ditanam lensa, telinga juga harus implan koklea (rumah siput). Biaya implan koklea ini jauh lebih mahal daripada operasi jantung, bisa 1 miliar rupiah. Alatnya saja 300 juta untuk satu telinga. Nah, kalau dua telinga bagaimana?” tukas Herlina.

Maka dari itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Aceh itu menegaskan bahwa vaksinasi MR sangat urgen. Pihaknya hingga saat ini terus melakukan sosialisasi ke daerah-daerah di Aceh untuk mengedukasi masyarakat. “Jadi, sudah tahu kan kenapa kami ‘mati-matian’ ke daerah untuk kampanye MR? Masyarakat harus diedukasi soal ini, tapi sayangnya terkalahkan oleh berita yang ‘haram-haram’ itu. Tegakah kita melihat anak yang lahir itu buta, tuli, cacat otak, dan bocor jantung sekaligus?” tegasnya sembari mengakui bahwa pihak medis berbeda persepsi dengan ulama terkait istilah darurat.

Dia jelaskan, kebocoran jantung itu ada tingkatannya. Pertama, pada tingkat serambi, yaitu sekat yang memisahkan serambi kiri dan kanan jantung bocor atau Atrial Septal Defect (ASD). Kedua, tingkat bilik, yakni sekat antara bilik kiri dan kanan jantung bocor atau Ventricular Septal Defect (VSD). Selain itu, ada pembuluh darah yang belum tertutup sehingga menghubungkan aorta dengan arteri pulmonalis atau Patent Ductus Arteriosus (PDA). “Nah, PDA ini kalau terdeteksi sejak dini saat bayi baru lahir ada obatnya, yakni lewat suntikan obat golongan paracetamol,” kata Herlina seraya menyebut tindakan itu bisa dilakukan hingga empat kali jika setelah dievaluasi, pembuluh darah itu masih terbuka.

Sedangkan untuk kasus bocor jantung tingkatan ASD dan VSD, lanjut Herlina, haruslah lewat bedah jantung terbuka atau kateterisasi dengan memasukkan alat lewat pembuluh darah di lipatan paha untuk menyumbat kebocoran di jantung. “Pada pembedahan ini jantung harus diistirahatkan, digantikan kerjanya dengan mesin CPB (Cardiopulmonary Bypass). Harus diperhatikan pula berat badan anak, minimal 7 kilogram, dan harus dilakukan dengan tim dokter lengkap,” kata Herlina.

Selain itu, pascaoperasi pasien dengan rubella syndrome akan lebih repot karena sangat kompleks. Dia mengaku ahli jantung di Aceh bisa operasi jantung, namun perawatan pascabedah butuh multidisiplin dokter dan obat yang paripurna. Anak pascaoperasi tersebut harus ‘ditongkrongin’ selama 24 jam karena kondisinya bisa berubah sewaktu-waktu. “Jadi, keberhasilan operasi jantung itu bukan ditentukan oleh dokter bedah jantung saja, tapi ada tim yang bekerja paripurna. Tim itu terdiri atas ahli laboratorium, intensivist (dokter ICU), ahli anestesi, dokter bedah jantung, dokter jantung anak, ahli radiologi, hingga rehab medik. Jujur aja, kita belum bisa standby begitu,” ungkapnya.

Konsultan Jantung Anak itu menambahkan, bocor jantung pada bayi bisa disebabkan oleh banyak hal. Kasus yang disebabkan oleh infeksi rubella termasuk bisa dicegah lewat vaksinasi.

Herlina mengatakan, para ahli kandungan (obgyn) bisa menyarankan seorang perempuan tidak hamil dulu jika terinfeksi rubella. Ibu tersebut harus diobati terlebih dulu untuk persiapan hamilnya di masa depan. “Kalau dia mau hamil sedangkan serology rubella dalam darahnya masih tinggi, maka kemungkinan lahir anak dengan problem yang sama (cacat) bisa di atas 80 persen,” jelas dia.

Senada dengan itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Wahyu Zulfansyah MKes mengatakan, pihaknya menyosialisasikan vaksinasi MR ke masyarakat agar rubella tidak menginfeksi ibu hamil yang berakibat pada cacatnya janin. “Kita ingin mencegah campak dan rubella dengan vaksinasi anak 9 bulan sampai 15 tahun. Diharapkan dengan capaian vaksin 95 persen terjadi kekebalan secara komunitas dehingga ibu hamil ini dengan sendirinya dapat terlindungi,” ujarnya.

Dia jelaskan, sosialisasi vaksin di Aceh sudah dilakukan sejak tahun 2017. Sosialisasi itu untuk menyadarkan masyarakat terkait risiko jika tidak divaksin. Wahyu mengungkapkan, saat ini keinginan masyarakat untuk vaksin justru menurun akibat pemberitaan ‘haram vaksin’ itu. “Aceh sangat sensitif soal yang haram ini. Padahal, efek dari rubella ini sangat menyedihkan. Kami hanya bisa menyosialisasikan, masyarakatlah yang memilih,” pungkasnya. (fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved