Aceh Waspada DBD

Masyarakat Aceh patut mewaspadai Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit menakutkan sekaligus mematikan

Aceh Waspada DBD
SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA
Petugas melakukan pengasapan atau fogging nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan penyakit DBD di Kecamatan Manggeng, Abdya. SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA 

* Januari 2019 Capai 174 Kasus

BANDA ACEH - Masyarakat Aceh patut mewaspadai Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit menakutkan sekaligus mematikan yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Aceh terkait perkembangan kasus DBD pada 23 kabupaten/kota di Aceh tertanggal 1-31 Januari 2019 pukul 17.00 WIB, DBD mencapai 174 kasus dengan dua kematian, yakni di Banda Aceh dan Nagan Raya.

Dari jumlah itu, Banda Aceh berada di urutan teratas daftar kabupaten/kota yang warganya terjangkit DBD dengan 40 kasus dan 1 kematian. Disusul Lhokseumawe dengan 19 kasus, Aceh Besar dan Pidie masing-masing 14 kasus, serta Bireuen, Aceh Timur, dan Langsa masing-masing sembilan kasus. Sementara 16 kabupaten/kota lainnya berkisar antara satu sampai delapan kasus DBD.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Wahyu Zulfansyah MKes yang ditanyai Serambi kemarin mengatakan, kasus DBD di awal musim penghujan memang terbilang banyak. Diakuinya, jumlah pada bulan ini meningkat dibandingkan Januari 2018 sebanyak 132 kasus, tapi jauh lebih rendah daripada Januari 2017 sebanyak 508 kasus. “Kasus di musim penghujan memang lebih banyak. Karena setelah hujan, jentik yang hidup dari air jernih tampungan hujan akan menjadi nyamuk dalam 5-6 hari,” ujarnya.

Dia jelaskan, nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue penyebab penyakit DBD memiliki ciri khas, yaitu ukuran tubuh sedang, berwarna hitam kecokelatan, dengan loreng putih di tubuh dan kakinya. Selain itu, nyamuk bersarang dan bertelur di tempat gelap dan lembab yang terdapat genangan air bersih.

“Pembawa virus dengue adalah nyamuk betina yang aktif mengisap darah pada pagi dan sore hari. Nyamuk akan beristirahat pada baju yang digantung, terutama yang bekas pakai, karena nyamuk demam berdarah menyukai aroma keringat manusia,” jelasnya.

Wahyu melanjutkan, orang yang terserang DBD akan menunjukkan gejala awal seperti panas (demam) tinggi yang lamanya 2-7 hari, sakit perut, diare, nyeri sendi/otot, muntah, dan pendarahan. Pendarahan itu dapat berupa bintik-bintik merah di kulit, mimisan atau gusi berdarah, atau pada kasus yang lebih parah dapat disertai dengan muntah darah dan BAB berdarah. “Satu kali gigitan dapat menularkan,” kata dia sembari menyebut penanganan awal sebelum ke rumah sakit yaitu dengan minum air putih yang banyak, gunakan kompres dan obat penurun panas, serta konsumsi makanan bergizi lebih banyak.

Sebagai upaya pencegahan, Dinkes Aceh terus mengampanyekan ‘4M Plus’ kepada masyarakat dan sekolah, yakni menguras bak air, menutup tempat penampungan air, mengubur barang bekas, dan memantau wadah penampungan atau bak sampah. Sementara ‘Plus’ dapat dilakukan dengan tidak menggantung baju bekas pakai, memelihara ikan, membubuhkan abate, dan menghindari gigitan nyamuk.

“4M plus ini metode pencegahan yang efektif. Intinya, kalau masyarakat tak mau gotong royong maka masalah DBD ini akan timbul. Lingkungan yang tidak dibersihkan akan menjadi tempat berkembangnya jentik dan nyamuk, apalagi di musim hujan seperti sekarang ini,” kata dr Wahyu, seraya mengimbau setiap rumah punya satu juru pemantau jentik (jumantik).

Ditegaskan, satu saja rumah yang kotor dapat mengontaminasi 99 rumah bersih lainnya dalam suatu komunitas.

Ditambahkan, pemberantasan sarang nyamuk dan jentik seminggu sekali dapat dilakukan dengan memberikan larvasida (zat pembunuh larva nyamuk) pada tempat penampungan air, memeriksa wadah atau tanaman yang bisa menampung air (vas bunga, tempat minum burung, wadah dispenser), dan memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar.

Selain itu, masyarakat diimbau tidak menggantung pakaian bekas pakai, memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa pada ventilasi rumah, menanam tanaman pengusir nyamuk (selasih, serai, lavender, dan geranium), serta memakai lotion/spray antinyamuk.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved