Ekonomi Aceh Tumbuh 5,43 Persen
Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas triwulan IV 2018 sebesar 5,43 persen year on year (yoy)
* Di Atas Rata-rata Nasional
BANDA ACEH - Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas triwulan IV 2018 sebesar 5,43 persen year on year (yoy). Angka ini berada di atas pertumbuhan nasional, yang hanya 5,18 persen dan Sumatera 4,46 persen. “Dengan angka 5,43 persen tersebut menempatkan Aceh di posisi keempat pertumbuhan ekonomi se-Sumatera, setelah Sumatera Selatan 6,07 persen, Sumatera Barat 5,50 persen, dan Kepulauan Riau 5,48 persen,” sebut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin MM dalam Berita Resmi Statistik terkait ‘Pertumbuhan Ekonomi Aceh Tahun 2018 dan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan IV 2018 dan Perkiraan ITK Triwulan 2019’, di Aula BPS setempat, Rabu (6/2).
Menurut Wahyudin, pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan ini dipengaruhi oleh produksi batubara yang terus meningkat, dan mulai berproduksinya Triangle Pase dan Medco Malaka di Blok A sejak pertengahan tahun 2018.
“Walaupun realisasi anggaran pada 2018 sebesar 81,8 persen menurun dibanding 2017 yaitu 92,7 persen, tapi ada tambahan pertambangan yang cukup tinggi di Aceh, sehingga pertumbuhan ekonominya berada di atas nasional pada 2018,” kata Wahyudin.
Sementara tanpa migas, pertumbuhan ekonomi Aceh secara yoy sebesar 5,09 persen. Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha, kecuali lapangan usaha transportasi dan pergudangan.
Dikatakan Wahyudin, penurunan pada lapangan usaha tersebut disebabkan oleh menurunnya jumlah wisatawan mancanegara, dan meningkatnya harga tiket pesawat domestik sejak November 2018.
Sedangkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian merupakan lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan tertinggi sebesar 15,61 persen, karena dipengaruhi oleh produksi batubara dan mulai berproduksinya Triangle Pase dan Medco Malaka.
Pertumbuhan tertinggi selanjutnya diikuti oleh lapangan usaha pendidikan 7,11 persen, diikuti lapangan usaha akomodasi dan makan minum sebesar 6,71 persen, dan lapangan usaha pertanian 6,44 persen.
“Apabila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Aceh triwulan IV 2018 yoy, lapangan usaha pertanian memiliki kontribusi yang cukup tinggi di Aceh. Sebab, kita mempunyai potensi pertanian, yang termasuk juga di dalamnya perkebunan, kehutanan, perikanan, dan peternakan,” sebutnya.
Pada kesempatan tersebut Kepala BPS Aceh, Wahyudin juga menyampaikan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan IV 2018 dan Perkiraan ITK Triwulan 2019. ITK adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan BPS melalui survei tendensi konsumen. ITK merupakan indeks yang menggambarkan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang.
Wahyudin mengatakan, ITK triwulan IV 2018 Provinsi Aceh sebesar 103,27. Artinya, pada periode Oktober hingga Desember 2018, konsumen di provinsi ini menyatakan bahwa kondisi ekonominya mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya (Juli-September 2018).
Menurutnya, persepsi optimisme konsumen di triwulan ini didukung oleh berbagai faktor, yaitu perayaan maulid, masa liburan akhir tahun, liburan sekolah, serta beberapa even seperti Pekan Olahraga Aceh (Pora), Banda Aceh Coffee Festival, Sabang International Free Diving Competition, dan Hari Belanja Online Nasional (Harbonas) cukup memberikan dampak terhadap konsumsi masyarakat di Aceh.
“Realisasi APBA 2019 menjelang akhir tahun juga cukup mendorong perekonomian, serta optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian di triwulan ini,” kata Wahyudin.(una)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/wahyudin-kepala-bps-aceh_20180103_114848.jpg)