Mihrab

Islam di Akhir Zaman Bagai Memegang Bara Api

Islam adalah agama akhir zaman, yaitu agama yang sempurna untuk menyempurnakan ajaran agama

Islam di Akhir Zaman Bagai Memegang Bara Api
IST
Syeikh Samih bin Jamal bin Jamal Shaleh Ali Al-Kuhali

BANDA ACEH - Islam adalah agama akhir zaman, yaitu agama yang sempurna untuk menyempurnakan ajaran agama sebelumnya. Agama bagi seluruh umat manusia yang membawa kedamaian, rasional, yang sesuai fitrah manusia untuk keselamatan hingga hari akhirat kelak.

Namun demikian, mengamalkan ajaran Islam sesuai yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya di akhir zaman, tidaklah mudah. Harus melewati banyak cobaan, penderitaan, kesengsaraan hidup dalam menghadapi fitnah akhir zaman. Sehingga kunci utama untuk melewatinya adalah kesabaran terhadap berbagai ujian Allah agar tetap istiqamah dengan ajaran agama meskipun berat.

Bahkan, saking beratnya memegang syariat agama Islam ini di akhir zaman terasa bagaikan memegang bara api. Karena pada saat itu Islam dan umatnya yang istiqamah dianggap asing, dan dikucilkan. Orang-orang sudah semakin malas-malasan menjalankan syariat Islam, sampai pada kondisi benci berbicara dan menjalankan Islam.

Demikian antara lain disampaikan Syeikh Samih bin Jamal bin Jamal Shaleh Ali Al-Kuhali (ulama dari Kota Aden, Hadramaut, Yaman) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (6/2) malam.

“Inilah fenomena dan fitnah akhir zaman yang harus dihadapi dan dilewati umat Islam saat ini. Orang yang memegang teguh agama Islam bagai memegang bara api, panas dan menyakitkan. Tapi beruntunglah orang-orang yang memegang bara api yang dijanjikan kemenangan oleh Allah,” ujar Syeikh Samil Jamal didampingi penerjemah, Habib Alwi bin Shahab dari Tangerang dan Tgk H Muhammad Hatta Lc MEd (Pimpinan LPI Dayah Madani Al-Aziziyah Lampeuneureut Ujong Blang, Darul Imarah, Aceh Besar).

Syeikh Samih yang juga penceramah resmi Kementerian Wakaf Yaman ini mengungkapkan, salah satu yang beruntung tersebut adalah Aceh dan umat Islam di daerah ini yang tengah menerapkan ajaran dan hukum syariat Islam, yang sama seperti memegang bara api.

“Menerapkan syariat Islam ini bagai memegang bara api karena akibatnya Aceh akan dikucilkan, dilecehkan, dicap radikal, intoleran, melanggar HAM dan dituding diskriminatif oleh pihak luar dan dunia internasional yang tidak senang syariat Islam diberlakukan,” jelasnya.

Pengajar di Rubath Al Idrus di Aden Hadramaut, Yaman ini menyebutkan, selama ini, Aceh sudah menerima banyak stigma negatif, dan penilaian buruk dari pihak-pihak luar karena menerapkan syariat Islam. Ini tentunya sama seperti menggenggam bara api, yang yang apabila tidak kuat dan tidak sabar maka akan melepaskannya dan meninggalkan syariat Islam.

“Alhamdulillah, umat Islam dan pemerintah di Aceh masih kuat memegang bara api ini, dan tidak pernah mundur sampai saat ini untuk menerapkan syariat Islam meski berbagai serangan dan tuduhan negatif. Tapi ini, belum seberapa, ke depan akan lebih berat lagi cobaan dan ujian ketika kita berupaya menegakkan syariat,” sebutnya.

Syeikh Samih berharap Aceh terus bersabar dan istiqamah untuk membela dan menegakkan syariat berdiri tegak di Aceh, apapun resikonya. Karena tantangan ke depan dari kalangan musuh-musuh Islam yang tidak senang dengan syariat ini akan semakin berat.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved