Tak Ada Jalan, Tak Ada Kendaraan Bermotor, Begini Damainya Tinggal di Desa Giethoorn

Di desa kecil Giethoorn, Belanda, tidak ada kendaraan bermotor sama sekali. Bahkan, tidak ada jalanan untuk dilewati mobil atau motor.

Tak Ada Jalan, Tak Ada Kendaraan Bermotor, Begini Damainya Tinggal di Desa Giethoorn
Vijesh Kumar Raju/National Geographic
Tak ada jalan, warga di Desa Giethoorn mengandalkan transportasi air, sepeda, atau berjalan kaki. 

SERAMBINEWS.COM - Di desa kecil Giethoorn, Belanda, ketenangannya hampir seperti mimpi.

Di sana, tidak ada kendaraan bermotor sama sekali. Bahkan, tidak ada jalanan untuk dilewati mobil atau motor.

Para penduduk lokal dan wisatawan yang mengunjungi Giethoorn, bergerak dengan cara yang 'tenang': menggunakan sepeda, perahu, atau berjalan kaki.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di desa ini kecuali berjalan-jalan di antara rumah-rumah asri beratap jerami dan melintasi kanal labirin.

Nama Giethoorn berasal dari abad ke-13, bermula dari kisah para petani yang kehilangan ternak kambingnya dalam peristiwa air bah 1170.

"Goat horn" atau "Geytenhoren" kemudian disingkat menjadi Giethoorn. Nama itu melekat hingga sekarang.

Dan berabad-abad setelah banjir besar, air terus menentukan sejarah dan lanskap kehidupan desa tersebut.

Baca: Buntut Kenaikan Tiket Penerbangan: Agen Travel di Pekanbaru Ini Berhenti Jual Tiket Pesawat Domestik

Baca: Jaga Lingkungan Sekaligus Jadi Resolusi Tahun 2019, 5 Tips untuk Traveling Minim Sampah

Baca: Tersembunyi Selama 40 Ribu Tahun, Daratan di Arktika Terungkap Saat Es Mencair

Di dekat Taman Nasional De Weerribben-Wielden, para pemerhati satwa liar mendaki lahan basan dan alang-alang rumah untuk bertemu dengan berang-berang hingga burung kormoran besar.

Anda juga dapat menikmati keindahan desa ini melalui jalur air–naik perahu dayung atau kano.

Tanpa suara bising dari kendaraan bermotor, suara alam menghidupkan pemandangan untuk semua indera.

Tips berkunjung ke Giethoorn

Untuk menikmati 'jam-jam emas' di Giethoorn, atur alarm Anda di pukul 6 pagi. Kemudian abadikan sejuknya suasana pagi di desa tersebut. Terutama di sepanjang jalur perairan atau kanal.

Atau Anda juga bisa melakukannya di sore hari, tepat sebelum matahari terbenam.

Anda bisa berkunjung ke Giethoorn dengan menggunakan kereta dan bus.

Untuk menghindari keramaian, pilih bulan April, Mei, Juni atau September. Tentu saja, weekdays jauh lebih sepi dibanding akhir pekan.(National Geographic)

Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved