Ada Media yang Buat Berita Ahok akan Gantikan Ma'ruf, Ini Tindakan Timses Jokowi

Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf melaporkan media massa yang membuat pemberitaan soal Basuki Tjahaja Purnama akan gantikan Maruf Amin.

Ada Media yang Buat Berita Ahok akan Gantikan Ma'ruf, Ini Tindakan Timses Jokowi
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1, Joko Widodo dan Maruf Amin memberikan penjelasan saat debat pilpres pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). Tema debat pilpres pertama yaitu mengangkat isu Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG) 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA -- Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf melaporkan media massa yang membuat pemberitaan soal mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akan gantikan Ma'ruf Amin sebagai wakil presiden.

Media tersebut dilaporkan ke Dewan Pers, Jumat (15/2/2019).

"Kami mengadukan pemberitaan salah satu harian yang di situ menggambarkan sesuatu yang tidak benar dan menyesatkan," ujar Direktur Komunikasi Politik TKN Jokowi-Maruf, Usman Kansong, di Posko Cemara, Jumat.

Dalam pemberitaan yang dimaksud, Basuki atau Ahok disebut akan menggantikan posisi Ma'ruf jika pasangan calon nomor urut 01 ini menang pilpres.

Ma'ruf disebut akan diganti karena masalah kesehatan.

Usman menyayangkan kabar bohong ini disebar lewat media mainstream.

Baca: Hasil Survei Elektabilitas Capres Jokowi-Maruf vs Prabowo-Sandiaga di 10 Lembaga, Cek Selisih Angka

Baca: CEO Bukalapak Singgung soal Presiden Baru, Pendukung Jokowi Ramai Pasang Tagar #uninstallbukalapak

Baca: Posting Foto Tomy Winata Berpose Salam Satu Jari, Jerinx Makin Yakin Jokowi Kalah di Pilpres 2019

Baca: Pastikan Bukan Bagian Tim Kampanye Pilpres, Yusuf Mansur: Saya Doakan Jokowi, Juga Doakan Prabowo

Baca: Sudah Lama Dipendam, Ustadz Yusuf Mansur Akhirnya Pilih Terang-terangan Dukung Jokowi, Ini Alasannya

Sebab, biasanya kabar bohong seperti ini hanya di media sosial.

TKN Jokowi-Ma'ruf sudah melaporkan media tersebut sore ini juga. Dia berharap Dewan Pers bisa bijak dalam menyikapi media tersebut.

"Karena kami mendapat info bahwa pimpinan media tersebut katanya merasa kecolongan. Tapi ini sesuatu yang naif bagi kami. Masa pimpinan kecolongan? Berarti tidak mengontrol media yang bersangkutan," katanya. (*)

Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved