Breaking News

Derita Qabila Butuh Uluran Tangan

Qabila Maila (4), warga Meunasah Balee, Kecamatan Sakti, Pidie, hanya bisa tergeletak kaku di atas tempat tidur

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Derita Qabila Butuh Uluran Tangan
IST
BOCAH Qabila Maila (4) di pangkuan ibunya, Gampong Meunasah Balee, Kecamatan Sakti, Pidie,Minggu (17/2).

Qabila Maila (4), warga Meunasah Balee, Kecamatan Sakti, Pidie, hanya bisa tergeletak kaku di atas tempat tidur. Dia tidak bisa beraktifitas seperti halnya anak seusianya. Kondisinya lemah, karena sakit lumpuh layu. Saat lahir kondisi Qabila Maila tergolong normal. Setelah usia 3,5 bulan, dia mengalami celebral palsy (lumpuh otak). Itu diketahui setelah dibawa berobat ke Puskesmas.

Kini usianya sudah 4 tahun, tapi matanya yang terbuka belum bisa melihat. Kakinya kaku, sehingga tidak bisa berjalan. Padahal, pada awalnya bocah berkulit putih ini terlahir normal. Qabila bahkan berwajah cantik. Hidungnya mancung dan kulitnya putih bersih.

Putri dari pasangan Nuraini (32) dan Marwan ini pernah berobat di rumah sakit, bahkan sampai ke RSUZA di Banda Aceh.

Namun, karena kondisi ekonomi yang terbatas membuat Qabila tidak dapat meneruskan berobat. Dalam kondisi tersebut, ibunya terus berjuang mengurus Qabila yang tak bisa berjalan. Sedangkan Ayahnya sudah dua tahun tidak lagi pulang dan memberikan nafkah.

“Kami tidak mampu berobat, karena ketiadaan ongkos untuk membawa Qabila,” kisah Nuraini dengan nada sedih, yang juga memiliki dua anak lagi, kakakknya Qabila.

Menurutnya, sehari-hari anak ini hanya tergeletak seperti bayi baru lahir. Ia hanya bisa menangis. “Badannya saja tidak bisa balik, cuma tergeletak di atas kasur,” ujar Nuraini.

Dia mengatakan, waktu lahir melalui persalinan normal anaknya biasa saja. Waktu usia 3,5 tahun, dia membawa sang anak ke puskesmas, barulah ketahuan mengidap celebral palsy.

Waktu itu sempat dirujuk sampai ke RSUZA, namun karena beban ekonomi, beberapa waktu kemudian dia memutuskan pulang kampung.

Namun, akhir-akhir ini kondisi anaknya kian memburuk. Ia makin sering menangis. Dan kini matanya tidak bisa melihat secara normal. Kakinya juga sudah meringkuk kaku, tidak bisa berjalan. “Saya tidak sanggup membawa ke rumah sakit, karena tidak ada biaya,” ujar Nuraini pilu sambil menyeka air mata.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Pidie, Effendi MKes kepada Serambi, Minggu (17/2) mengatakan, pihaknya sudah pernah menangani pasien ini hingga sampai ke RSUZA.

“Kami akan membantu merujuk lagi untuk mendapatkan perawat medis maksimal,” ujarnya.

Dikutip dari berbagai sumber, penyakit cerebral palsy (CP) atau lumpuh otak adalah kumpulan kondisi yang mempengaruhi otot dan saraf. Umum terjadi pada bayi dan anak-anak. Tanda-tanda penyakit ini, antara lain pergerakan lengan dan kaki yang tidak normal, gangguan makan pada bayi, pembentukan otot buruk, tubuh kaku, dan penglihatan tidak normal.(aya)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved