Haba Dinkes Aceh

Aceh Siap untuk Pengentasan Stunting

ORGANISASI Kesehatan Dunia di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yaitu World Health Organization (WHO)

Aceh Siap untuk Pengentasan Stunting
IST

ORGANISASI Kesehatan Dunia di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yaitu World Health Organization (WHO) memberi peringatan kepada Indonesia atas tingkat stunting atau kekerdilan anak yang cukup tinggi.

Di Indonesia, Aceh menjadi salah satu provinsi yang angka stuntingnya tinggi, dengan menduduki peringkat tiga, di bawah Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Barat. Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) pihak kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, angka prevalensi Stunting pada bayi di bawah dua tahun (baduta) di Aceh cukup tinggi yaitu sebanyak 37,9 persen, sementara prevalensi rata-rata nasional sebesar 30,8 persen.

Sehingga pemerintah pusat bergerak cepat melakukan penanganan dan pencegahan stunting ini. Pusat bersinergi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, mulai provinsi hingga kabupaten/ kota. Pemerintah Aceh pun langsung memberi respons cepat dengan menyusun dan melahirkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang penanganan dan pencegahan stunting. Kemudian Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah bersama perwakilan pemerintah pusat, perwakilan pemkab/pemko se-Aceh mendeklarasikan gerakan geunting di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Minggu (3/3).

Gerakan Geunting merupakan gerakan khusus di Aceh dengan misi untuk pengentasan stunting. Pemerintah pusat pun mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Aceh yang langsung menerbitkan pergub dan mendeklarasikan gerakan penaganan stunting. Mereka berharap gerakan serupa juga dilanjutkan oleh kabupaten/kota di Aceh.

Target Turunkan Stunting di Bawah Angka Nasional
Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah mengatakan, dengan deklarsikan gerakan geunting dan bersinerginya semua pihak, maka ia menargetkan Aceh mampu menurunkan angka stunting di bawa rata-rata nasional. Nova menjelaskan, bahwa komitmen penanganan stunting sudah dicanangkan secara nasional, namun Aceh kembali meluncurkan secara khusus karena angka pravalensinya tinggi.

Aceh sudah menganstipasi stunting dengan melahirkan Pergub dan akan melakukan pendataan secara nyata di lapangan. Menurut Nova, deklarasi gerakan geunting itu juga menunjukkan komitmen semua pihak, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, serta TNI/Polri. Karena penanganan stunting ini sangat berkaitan dengan masa depan bangsa.

“Kita menargetkan penurunan stunting di Aceh serendah- rendahnya lah, jika nasionalmampu menurunkan 17 persen nanti, maka Aceh harus mampu menurunkan di bawah angka itu. Karena penduduk Aceh lebih sedikit,” ujar Nova. Menurutnya, stunting ini sangat rawan di daerah karena kekurangan asupan gizi. Biasanya, stunting itu karena kekurangan gizi sejak di dalam kandungan hingga berumur lima tahun. Biasanya, lanjut Nova, daerahdaerah terpencil juga sangat rawan terhadap angka stunting, karena memang kekurangan asupan gizi.

Sehingga, menurutnya, sinergi antara pemerintah dengan TNI/polri untuk sosialisasi pentingnya asupan gizi dan mendistribusikan gizi ini hingga ke pelosok. Gerakan Geunting memang akan terus dilaksanakan sepanjang massa, karena pencegahan stunting dinilai sangat penting untuk generasi masa depan bangsa. Apalagi pada 2045 Indonesia mendapat bonus demograsi, sehingga Nova menargetkan bahwa generasi bangsa yang mengendalikan negara pada 2045 tidak ada yang mengalami dan stunting.

Nova juga menegaskan, bahwa setelah Pemerintah Aceh mengeluarkan pergub. Maka kabupaten/kota di Aceh harus segera mengeluarkan perbup dan perwal, supaya program tersebut dapat berjalan bersama.

Pentingnya Asupan ASI, Gizi dan Pola Asu
Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Dr Hanif mengatakan, bahwa asupan ASI, gizi, dan pola asuh anak sangat memberi dampak kepada stunting. Sehingga langkah yang akan diambil untuk penanganan nanti akan menyasar asupan ASI, Gizi, dan pola asuh yang baik.Ia menambahkan, bahwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI saat ini sudah menandatangani kerja sama dengan Unsyiah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved