Sekeluarga di Aceh Barat Terjangkit Difteri

Satu keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan seorang anak yang berusia 15 tahun, penduduk sebuah desa

Sekeluarga di Aceh Barat Terjangkit Difteri
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Penduduk Pulau Sarok, Singkil, Aceh Singkil, mengikuti vaksinasi difteri yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat 

MEULABOH - Satu keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan seorang anak yang berusia 15 tahun, penduduk sebuah desa di Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, dilaporkan terjangkit difteri. Sang ayah dan ibu sudah sembuh, sedangkan anaknya harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Diperoleh informasi, Kamis (28/3), bahwa penyakit difteri atau radang kerongkongan itu awalnya menyerang suami, kemudian menular kepada istrinya, dan terakhir kepada anak mereka. Namun, nama-nama warga yang terjangkit difteri tersebut tidak dibolehkan untuk dipublikasi terbuka oleh dinas kesehatan setempat karena dikhawatirkan akan membuat takut warga-warga lain yang menetap di sekitar rumah warga tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat, TR Ridwan MKes kemarin mengatakan, kasus difteri sudah ditemukan di Aceh Barat dalam bulan Maret 2019. Penderitanya adalah warga sebuah desa di Kecamatan Johan Pahlawan yang statusnya merupakan satu keluarga. “Ayah dan ibunya sudah sembuh. Tapi anak mereka kini harus dirujuk ke RSUZA Banda Aceh,” kata TR Ridwan.

Ppemeriksaan ketiga pasien yang sempat dirawat di RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh itu sudah dilakukan. Hasil laboratorium menunjukkan bahwa seisi rumah itu positif terjangkit difteri. “Penyakit tersebut berbahaya dan perlu dilakukan pencegahan sehingga tidak meluas karena dapat menular kepada orang lain, “ kata TR Ridwan.

Menurut Ridwan, ditemukannya penderita difteri sudah dia laporkan ke Dinas Kesehatan Aceh, termasuk ke sejumlah kalangan ketika pertemuan di Banda Aceh baru-baru ini. Bahkan penyakit difteri mulai menjangkiti warga di Aceh Barat.

Duduk dengan muspika
Kadis Kesehatan Aceh Barat menambahkan, terhadap kasus difteri ini dia akan duduk dengan muspika, termasuk pihak puskesmas, untuk menentukan langkah-langkah pencegahan agar jangkitan difteri tidak meluas ke warga lain karena berbahaya, bahkan dapat merenggut nyawa.

Menurut kadis, dengan ditemukannya kasus difteri di Aceh tentu tidak boleh dibiarkan sehingga dapat dilakukan pencegahan serta upaya-upaya yang cepat dan tepat. Apalagi ini menyangkut kesehatan. “Harapan kita tidak meluas atau terjangkit kepada orang lain,” katanya.

Tahun lalu suspect
Pada bagian lain, Ridwan menambahkan bahwa tahun 2018 lalu juga pernah ada sejumlah anak yang sempat dicurigai atau suspect difteri. Tapi setelah diperiksa dan dikirimkan sampel khusus ke laboratorium di Medan waktu itu ternyata hasilnya negatif. (riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved