Gatot Nurmantyo Sebut Anggaran Pertahanan Minim, Menhan: Anggarannya Sudah Rp 100 Triliun Lebih

Menurut Ryamizard mengatakan anggaran pertahanan telah mengalami kenaikan sejak masa Gatot menjadi Panglima TNI pada periode 2015 - 2017.

Gatot Nurmantyo Sebut Anggaran Pertahanan Minim, Menhan: Anggarannya Sudah Rp 100 Triliun Lebih
Puspen TNI/Kolonel Inf Bedali Harefa, S.H.
Foto ilustrasi: Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bersama Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo saat masih menjabat sebagai Panglima TNI. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Kritik mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo soal minimnya anggaran pertahanan saat menghadiri pidato kebangsaan Prabowo di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Jumat, (12/4/2019), ditanggapi Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Menurut Ryamizard mengatakan anggaran pertahanan telah mengalami kenaikan sejak masa Gatot menjadi Panglima TNI pada periode 2015 - 2017.

Ia menegaskan bahwa TNI adalah tentara rakyat untuk itu sudah sewajarnya jika TNI mendahulukan kepentingan rakyat.

Hal itu disampaikananya saat acara Jumpa Awak Media bertajuk "Netralitas TNI" di sebuah restoran di Jakarta Pusat pada Senin (15/4/2019).

Prabowo, Jokowi, dan Gatot Nurmanto (Kolase TribunWow.com)

Baca: Plt Gubernur Aceh Cek Kesiapan Pemilu di Pidie, Ini TPS yang Dikunjungi

Baca: Dandim 0103 Aceh Utara: Netralitas TNI Harga Mati

"Sudahlah Gatot Nurmantyo, yang sudah, sudah. Dulu anggaran kita Rp 50 sampai Rp 60 (triliun). Sekarang sudah Rp 100 triliun lebih. Apalagi? Mau ngambil uang rakyat? Kita tentara rakyat. Rakyat dulu lah diutamakan. Masa' kita menomor sepuluhkan rakyat? Pokoknya rakyat terserah. Tidak benar. Bukan tentara rakyat itu," kata Ryamizard.

Dia menjelaskan bahwa postur anggaran pertahanan dan alutsista TNI memang sudah sewajarnya disesuaikan dengan ancaman yang ada.

"Postur alutsista TNI disesuaikan dengan ancaman. Kalau beli alutsista tidak sesuai postur itu mubazir. Baik alat, kemampuan manusia, misalnya alat angkut laut, udara, zeni, kesehatan," kata Ryamizard.

Ia juga menjelaskan, saat ini ada tiga ancaman nyata yang paling menonjol yakni bencana alam, pemberontakan, dan terorisme.

"Ancaman nyata, bencana alam, teroris, wabah penyakit, cyber inteleijen, pencurian sumber daya alam, dan pemberontakan. Yang menonjol ada tiga teroris, pemberontakan, dan bencana alam," kata Ryamizard.

Halaman
123
Editor: Amirullah
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved