Puisi-Puisi D. Keumalawati, Kesadaran Mencapai Makrifat

D. Keumlawati salah seorang penyair produktif Aceh yang memiliki jaringan luas dalam dan luar negeri.

Puisi-Puisi D. Keumalawati, Kesadaran Mencapai Makrifat
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Penyair berdarah Madura, Mahwi Air Tawar membacakan puisi karya D. Keumalawati, disaksikan para pembicara diskusi, dari kiri Fathin Hamama, Sastri Sunarti, dan D. Keumalawati di PDS HB. Jassin, Jakarta, Kamis (16/5/2019) petang. 

Puisi-Puisi D. Keumalawati, Kesadaran Mencapai Makrifat

Laporan Fikar W.Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Sajak-sajak penyair Aceh, D. Keumalawati yang terhimpun dalam antologi "Bayang Ibu (2016)" merupakan kesadaran mencapai  hakikat, syariat, dan makrifat.

Ini dikatakan doktor sastra --peneliti pada Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan --Dr. Sastri Sunarti M.Hum, saat membahas buku puisi karya D. Keumalawati di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin, Jakarta, Kamis (16/5/2019) petang.

Diskusi dihadiri sejumlah seniman dan penggiat sastra, ditutup dengan buka puasa bersama.

Sastri menjelaskan, salah satu wujud dari laku seorang  "salik" atau penganut tarekat, adalah senantiasa mengakrabi kesunyian, yaitu satu laku menggambarkan laku rohani yang mengantarkan  kepada 'isyaqi' atau cinta ilahi.

"Laku sufistik ini entah sadar atau tidak menjadi sebuah suara yang muncul berkali-kali dalam antologi Bayang Ibu," kata Sastri.

Kesunyian sebagai laku rohani muncul dalam beberapa diksi dalam frasa sajak-sajak D. Keumalawati, seperti puisi "Masjid di Atas Bukit, Janji Cahaya, Kuharap Kau Mengajakku ke Sana, Mata Api Matamu, Gagap, Bersunyi Aku dalam Iradah," dan sebagainya.

Baca: Beberkan soal People Power 22 Mei, Fahri Hamzah: Jika Ada Tembakan, Selesai Republik Ini

Baca: Penyair Pidie Jaya Terbitkan Kumpulan Puisi Arakundo di Jakarta

Kata Sastri, kesunyian dalam sajak D. Keumalawati bukan hanya menggambarkan hubungan "salik" dengan Khaliknya, melainkan juga sebagai medium mengenang Maskirbi, sahabatnya yang meninggal dunia dalam peristiwa tsunami 2004.

Penyair D. Keumalawati, menjelaskan awalnya dirinya tidak menyadari bahwa puisi-puisi yang terhimpun dalam buku tersebut dipenuhi dengan "kesunyian."

Halaman
12
Penulis: Fikar W Eda
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved