Breaking News

Anggaran Pemberantasan DBD di Dinkes Abdya Sudah Habis, Kasus Masih Terlalu Tinggi

Sementara anggaran pencegahan dan pemberantasan yang tersedia pada Dinkes Abdya cuma Rp 100 juta sumber APBK 2019

Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Petugas sedang melakukan fooging atau pengasapan untuk memberantasan nyamuk aedes aegypti sebagai penyebab berjangkit penyakit deman berdarah di kawasan Desa Keude Siblah, Blangpidie, Abdya pada Maret 2019 lalu 

Anggaran Pemberantasan DBD di Dinkes Abdya Sudah Habis, Kasus Masih Terlalu Tinggi 

Laporan Zainun Yusuf | Aceh Barat Daya  

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) sejak Januari sampai Juni 2019, menerima laporan sebanyak 201 kasus DBD (Demam Berdarah Dengue).

Laporan tersebut diterima Rumah Sakit Umum Teungku Peukan (RSUTP) yang merawat pasien DBD selama enam bulan terakhir.

Itu berarti, terjadi peningkatan luara biasa dibanding kasus tahun 2018 yang berjumlah 194 pasien demam berdarah.

Sementara anggaran pencegahan dan pemberantasan yang tersedia pada Dinkes Abdya cuma Rp 100 juta sumber APBK 2019.

Baca: Ini 11 Janji Jokowi untuk Aceh

Anggaran tersebut sudah habis pada bulan Mei lalu yang digunakan untuk kegiatan fogging (pengasapan) sarang nyamuk di sejumlah lokasi di kecamatan-kecamatan.

Jumlah penderita cenderung bertambah dari bulan ke bulan.

Dinkes Abdya laporan penyakit DBS pada bulan Januari 7 kasus pasien anak-anak dan dewasa.

Jumlahnya melonjak menjadi 66 kasus pada Februari.

Bulan Maret dilaporkan 63 kasus, bulan April sebanyak  27 kasus, Mei 18 kasus dan bulan Juni sebanyak 20 kasus DBD.

Kepala Dinkes Abdya, Safliati SST dihubungi Serambinews.com, Senin (1/7/2019) mengakui kalau kasus DBD di daerah tersebut terlalu tinggi, sebab sejak Januari sampai 30 Juni 2019 diterima laporkan 201 kasus.

Baca: Internal Golkar Aceh Inginkan Hendra Budian Jadi Pimpinan DPRA

Pasien demam berdarah yang dilaporkan itu berasal dari beberapa desa/gampong di Kecamatan Susoh, Blangpidie, Tangan-Tangan-Tangan, Babahrot, Kuala Batee, Jeumpa, Setia, Manggeng dan Lembah Sabil.

Kepala Dinkes Safliati melalui Kasie Surveilans dan Imunisasi, Mansuri SKM menjelaskan setelah menerima laporan kasus DBD dari pihak rumah sakit, maka segera dilakukan penyelidikan Epidemiologi.

Penyelidikan ini bertujuan untuk mengetahui potensi penularan dan penyebaran, apakah DBD berasal di rumah penderita  atau dibawa dari luar.  

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved