Balita Diterjang Peluru Senjata Mainan
Bocah balita (bawah lima tahun) Dea (3), penduduk Desa Gampa, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat
Berdasarkan keterangan diperoleh, selama ini senjata mainan bebas diperjualbelikan di Kota Meulaboh dan tidak pernah dirazia oleh aparat keamanan sehingga anak-anak bebas main perang-perangan. Setahu bagaimana, tiba tiba sebutir peluru senjata mainan itu telah bersarang di telinga Dea.
Walhasil, para kerabatnya sempat panik dan segera melarikan gadis cilik itu ke rumah sakit. Setelah ditangani petugas medis yang dipimpin dokter ahli bedah, dr Raimon, peluru itu berhasil dikeluarkan dalam teliga Dea. “Peluru senjata mainan itu sudah berhasil dikeluarkan,” ujar Surya, anggota keluarga dari Dea yang juga seorang petugas medis di RSUD Cut Nyak Dhien.
Tembak bola lampu
Sementara itu, ratusan warga Meulaboh makin diresahkan oleh ulah anak anak pemilik senjata mainan yang bermain perang-perangan dengan menghancurkan fasilitas umum, seperti lampu penerangan jalan. “Kami sangat berharap aparat menertibkan senjata mainan itu,” harap Anzib, penduduk Simpang Peut Rundeng yang mengaku bola lampu di sepanjang toko miliknya pecah semua akibat ulah bocah pemilik senjata mainan.
Keluhan warga Meulaboh bukan saja senjata mainan yang bebas diperjual belikan sejak lebaran pertama hingga Jumat kemarin, tetapi mercon juga bebas diperjualbelikan dan tidak pernah dirazia. Dalam sepekan ini setiap malam terjadi letusan mercon skala besar hingga membuat warga terutama bayi terkejut.
Luka memar
Sementara itu, sejumlah warga dan pengguna jalan yang melintas di ruas jalan provinsi dan sejumlah wilayah di Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat, saat perayaan Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah kini juga diresahkan dengan senjata mainan yang dilakoni sejumlah anak-anak di kedua kabupaten.
Pasalnya, aksi tembak-menembak yang dilakukan sesama anak-anak itu, kerap menyebabkan pengguna jalan nyaris mengalami kecelakaan, akibat ditembak menggunakan peluru yang terbuat dari plastik.
Akibatnya, banyak warga di kedua wilayah yang mengalami luka memar akibat terkena tembakan. Apalagi penembakan yang dilakukan anak-anak dengan menggunakan senjata api mainan itu tak hanya terjadi kali ini saja, melainkan telah terjadi setiap lebaran tiba.
Bahkan Prohaba yang memantau langsung fenomena tembak-menembak ini juga menemukan adanya aktivitas anak-anak yang secara berkelompok saling menyerang. Sehingga sangat membahayakan keselamatan mereka khususnya indera penglihatan.(riz/edi)