Khadafi Tewas, Revolusi di Libya Belum Berakhir
MANTAN Pemimpin Libya Muammar Khadafi sudah tewas
Penembakan terhadap Khadafi terjadi tidak lama setelah kejatuhan Sirte ke tangan tentara revolusioner. Pasukan akhirnya menemukan tempat persembunyian Khadafi. Satu putra Muammar Khadafi, Mo’tassim Khadafi, juga ikut tewas dalam serangan itu.
Kematian Muammar Khadafi disambut baik oleh sebagian rakyat Libya. Mereka turun ke jalan dan bersorak merayakan kematian mantan pemimpin otoriter tersebut. Mereka turun ke jalan-jalan di ibukota Tripoli. Sambil mengibarkan bendera Libya, mereka besorak kegirangan. Sedangkan pasukan revolusioner merayakan dengan menembakkan senjata mereka ke udara. Mereka saling berpelukan mensyukuri perjuangan yang cukup melelahkan itu akhirnya berakhir.
Deutsche Welle World dalam tajuknya mengatakan, tanda-tanda berakhirnya rejim Muammar Khadafi yang mulai terlihat sejak delapan bulan lalu, ketika banyak rakyat Libya berjuang menjatuhkannya. Merela merasa kepemimpinan Khadafi yang sudah 42 tahun terasa sangat semena-mena bahkan brutal. Dan, kerenanya rakyat Libya berusaha keras mendapatkan haknya untuk memperoleh kebebasan dan menentukan diri sendiri. Mereka punya hak atas kehidupan yang memenuhi harkat manusia tanpa penyiksaan, intimidasi, dan pengekangan. Dan mereka sudah memperjuangkannya dengan keberanian dan kesediaan besar untuk berkorban.
Memang, tanpa dukungan negara-negara Barat, kesuksesan militer pemberontak tidak akan tercapai. Serangan udara NATO telah membuka jalan bagi mereka. Itu tidak mengurangi kesuksesan militer para pemberontak, yang jika tidak dibantu, pasti sudah kalah. Tetapi itu berarti kewajiban juga besar.
Pembangunan demokrasi dan masyarakat sipil di Libya kemungkinan akan lebih sulit daripada di Tunisia atau Mesir. Sebab, selama kepemimpinan Khadafi sama sekali tidak ada partai atau institusi modern milik negara yang berfungsi. Makanya, negara itu harus mulai dari nol.
Risiko terbesar harus dipikul rakyat Libya sendiri. Risiko-risikonya tidak dapat diabaikan, terutama karena potensi konflik di masyarakat juga tinggi. Tindakan balas dendam yang sembarangan terhadap pendukung rejim Khadafi tidak boleh sampai terjadi. Itu akan menjadi racun bagi awal politik yang baru. Oposisi yang terpecah-belah dalam berbagai kelompok harus mengorganisir diri ke dalam bentuk partai. Suku-suku harus disatukan dan kepentingan mereka harus diperhatikan secara adil. Konstitusi baru juga diperlukan, dan pemilu yang bebas dan rahasia harus dipersiapkan secara baik.