Opini
Ejaan Bahasa Aceh Siapa Peduli?
PROBLEMA bahasa Aceh cukup banyak, sebanyak peta politik Aceh yang selalu meguyak; bergelombang
PROBLEMA bahasa Aceh cukup banyak, sebanyak peta politik Aceh yang selalu meguyak; bergelombang. Namun ada satu butir terpenting dari ‘penyakit’ bahasa Aceh yang perlu segera didatangi ‘dokter spesialis’, yaitu soal ejaan. Maksud ‘dokter spesialis’ adalah campur tangan Pemerintah Aceh yang cergas, tangkas dan tuntas.
Sejak bahasa Aceh mulai ditulis dengan huruf Latin, masalah ejaan mulai menjadi persoalan. Dulu, pemerintah Hindia Belanda di Aceh mengikuti ejaan bahasa Aceh yang diajukan oleh sang pakar Aceh mereka, yaitu Snouck Hurgronje. Lalu, akibat sukarnya mendapatkan mesin tik yang memenuhi syarat, lama kelamaan warisan Belanda ini pun mulai ditinggalkan oleh sebagian pengarang.
Para penulis bahasa Aceh --turutama pengarang hikayat-- menulis ejaan bahasa Aceh sesuai seleranya masing-masing. Sejumlah pengarang lama seperti Tgk Abdullah Arief, Syeh Rih Krueng Raya, Syeh Mud Jeureula sampai Medya Hus, dalam menulis bahasa Aceh masih memakai cara Snouck Hurgronje.
Di antara penulis lama itu, hanya Medya Hus yang masih aktif menulis sekarang, sedangkan yang lain sudah berpulang ke Rahmatullah. Mungkin lantaran tinggal sendirian, sejauh yang saya amati; Medya Hus pun tidak mutlak lagi menulis bahasa Aceh dengan ejaan lama itu.
Kalangan pengarang Aceh yang lain, kini mereka menggunakan ejaan bahasa Aceh ‘ala praktis’. Akibat acuannya belum ada, maka ejaan bahasa Aceh yang mereka praktekkan menjadi beragam. Pihak Pemerintah Aceh-lah yang mampu menyeragamkan berbagai versi ejaan bahasa Aceh itu.
Model praktis
Di antara pengarang hikayat yang paling produktif mengarang hikayat dengan ejaan bahasa Aceh ‘model praktis’ ini adalah Drs Tgk Ameer Hamzah. Melalui sejumlah hikayat karyanya, Ameer Hamzah telah ikut mewarnai versi ejaan bahasa Aceh yang semakin banyak ragamnya. Ia telah amat berperan dalam memasyarakatkan penulisan bahasa Aceh dengan ‘ejaan praktis’-nya.
Selain itu, meski kurang dikenal masyarakat awam, kalangan penulis bahasa Aceh juga amat menghargai Dr A Gani Asyik MA sebagai pelopor penulisan bahasa Aceh secara praktis. Namun demikian, tidak semua pengarang Aceh mengikuti pedoman ejaan bahasa Aceh yang dipakai beliau.
Sebagai bukti, baiklah saya tampilkan sejumlah perkataan bahasa Aceh yang menggunakan ejaan versi Dr A Gani Asyik MA. Ejaan beliau saya kutip dalam buku “Al Qur’an Al Karim dan Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh”, karya Tgk H Mahjiddin Jusuf terbitan Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam (P3KI) Aceh, Banda Aceh, 2007. Penulisan ejaan bahasa Aceh pada edisi kedua buku ini memakai standarisasi versi Dr A Gani Asyik MA (AGA).
Selanjutnya, silakan banding ejaan itu dengan ejaan bahasa Aceh yang saya (TA Sakti - TAS) pakai pada saat ini. Sedangkan nomor atau angka yang tercantum di ujung contoh-contoh itu adalah angka halaman dari “Al Qur’an Al Karim dan Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh” oleh Tgk H Mahjiddin Jusuf (HMJ) itu.
Tak ada yang peduli
Begitulah, masalah ejaan bahasa Aceh amat beragam dan centang-prenang hingga hari ini. Berkali-kali seminar, kongres, diskusi dan workshop telah dilaksanakan, yang kesimpulannya antara lain mendesak pemerintah Aceh agar menyeragamkan ejaan Bahasa Aceh. Namun, hasilnya selalu nihil dan sama sekali tak ada yang peduli. Akibatnya, kekacauan ejaan bahasa Aceh semakin merajalela.
Di kalangan komunitas pengarang ‘Cae Aceh’ AcehTV, yang kini sudah berusia sekitar 3 tahun, juga terjadi ketidak-seragaman dalam penulisan ejaan bahasa Aceh untuk cae-cae Aceh mereka. “Karab lhee ploh droe nyang tuleh cae, mungken rab lhee ploh macam cit ejaan bahasa Aceh. (Hampir 30 orang yang menulis syair, mungkin hampir 30 macam pula ejaan bahasa Aceh mereka),” kata Medya Hus.
Saya sendiri, yang hingga kini telah menyalin/alih aksara 30 judul “Hikayat Aceh” dari huruf Arab Melayu/Jawoe ke huruf Latin; juga menulis bahasa Aceh dengan ejaan versi saya.
Oleh karena itu, ke depan kita amat mengharapkan tampilnya tokoh-tokoh Pemerintahan Aceh yang peduli kepada nasib bahasa Aceh, yang kacau-balau ejaannya sekarang. Kalau terus saja terbiarkan, berarti semakin bertambah pula jumlah ragam penulisan ejaan Bahasa Aceh. Karena itu, siapa pun pemimpin Aceh ke depan, kita harapkan agar tetap menjaga dan peduli akan bahasa dan sastra Aceh ini, Semoga!
* T.A Sakti, Peminat Bahasa dan Sastra Aceh, tinggal di Banda Aceh. Email: ta.sakti@yahoo.com