Jurnalisme Warga
Nasib Mahasiswa Rantau di Tengah Inflasi yang Merobek Kantong
Awal bulan selalu menjadi momen yang ditunggu oleh banyak mahasiswa. Saat notifikasi transfer dari orang tua masuk ke rekening
SYIFA SAFIRA, Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
Awal bulan selalu menjadi momen yang ditunggu oleh banyak mahasiswa. Saat notifikasi transfer dari orang tua masuk ke rekening, rasa lega langsung bertengger. Ini artinya, untuk beberapa waktu ke depan, kebutuhan hidup dan perkuliahan jadi aman. Namun belakangan ini, rasa lega itu tidak bertahan lama. Uang yang dulu terasa cukup kini seolah habis lebih cepat, sedangkan kebutuhan terus bertambah dan harga-harga semakin sulit diajak bersahabat.
Sebagai mahasiswa yang notabene bergantung pada kiriman orang tua, saya merasakan betul bagaimana turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) saat ini mengubah cara kami memandang uang. Nominal yang dikirimkan mungkin masih sama seperti beberapa bulan atau tahun sebelumnya, tetapi nilainya tidak lagi sama. Harga makanan naik, ongkos transportasi meningkat, biaya fotokopi dan print tugas juga bertambah. Belum lagi kebutuhan kuota internet, alat tulis, serta berbagai kebutuhan lain yang tidak bisa dihindari.
Setiap kali uang saku masuk, mahasiswa tidak lagi sekadar menerima uang. Kami harus menjadi perencana keuangan bagi diri sendiri. Uang itu harus dibagi untuk makan, transportasi, kebutuhan kuliah, biaya kos, dan berbagai pengeluaran tak terduga lainnya.
Di tengah kondisi seperti ini, membeli sesuatu yang diinginkan sering kali bukan lagi soal mampu atau tidak mampu, melainkan soal berani atau tidaknya mengurangi jatah kebutuhan yang satu demi terpenuhinya kebutuhan yang lain.
Bagi mahasiswi, persoalan ini menjadi tantangan tersendiri yang semakin krusial. Selain kebutuhan akademik dan kebutuhan hidup sehari-hari, ada pula kebutuhan pribadi seperti produk kebersihan, perawatan diri, hingga kosmetik sederhana. Ketika harga-harga terus meningkat, kebutuhan tersebut kerap menjadi hal pertama yang dikorbankan. Tidak sedikit mahasiswi yang menunda membeli produk perawatan yang telah habis atau memilih tidak membeli kosmetik sama sekali karena harus mendahulukan kebutuhan yang dianggap lebih mendesak. Pada akhirnya, yang dipikirkan bukan lagi bagaimana tampil lebih baik, melainkan bagaimana memastikan uang yang ada tetap cukup untuk makan, memenuhi kebutuhan kuliah, dan bertahan hingga akhir bulan.
Selembar “uang merah” yang dulu betapa berharga, kini nilainya semakin tergerus. Begitu keluar dompet, tak butuh waktu lama untuk raib dalam rantai konsumsi. Padahal, perjuangan orang tua di kampung dalam mengumpulkan lembaran merah untuk dikirimkan kepada anaknya di rantau yang sedang menuntut ilmu tidaklah bisa dibilang mudah.
Kondisi tak kondusif ini, kerap memunculkan rasa bersalah. Seakan kesulitan mengatur keuangan terjadi karena mahasiswa kurang pandai berhemat. Padahal, setelah dihitung kembali, sebagian besar pengeluaran justru digunakan untuk kebutuhan yang memang tidak dapat dihindari alias kebutuhan pokok.
Banyak mahasiswa sudah terbiasa hidup hemat sejak awal merantau. Menahan diri untuk jajan karena mengutamakan biaya cetak tugas itu sudah lumrah bagi sebagian mahasiswa, terutama anak rantau. Ada yang memilih berjalan kaki agar bisa menghemat ongkos transportasi. Bahkan, ada yang harus menunda membeli kebutuhan pribadi demi memastikan bahwa tugas kuliah tetap dapat diselesaikan tepat waktu.
Namun, realitas mahasiswa tidaklah sama. Tidak semua mahasiswa menerima uang saku bulanan yang tetap. Sebagian menerima kiriman secara tidak menentu, tergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. Ada yang menerima kiriman seminggu sekali, ada yang sepuluh hari sekali, bahkan ada yang hanya menerima uang ketika orang tua memiliki rezeki untuk mengirimkannya.
Dalam kondisi seperti itu, mahasiswa tidak hanya belajar mengatur keuangan, tetapi juga belajar hidup dalam ketidakpastian. Sering kali muncul anggapan bahwa mahasiswa dapat mengatasi persoalan ekonomi dengan bekerja sambilan. Anggapan itu memang tidak sepenuhnya salah, tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak mahasiswa yang ingin bekerja untuk membantu meringankan beban orang tua, tetapi terbentur jadwal kuliah yang padat, tugas akademik yang menumpuk, kegiatan organisasi, atau keterbatasan kesempatan kerja yang sesuai dengan kondisi mahasiswa. Akibatnya, sebagian besar tetap bertahan dengan uang saku yang mereka miliki dan berusaha mencukupkan segala kebutuhan dari jumlah yang terbatas tersebut.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa-biasa saja, sesungguhnya ada kegelisahan yang tidak selalu terlihat. Ada mahasiswa yang tidak berani meminta tambahan uang ketika kiriman dari orang tua sudah habis. Bukan karena mereka tidak membutuhkan, melainkan karena mereka memahami kondisi keluarga di rumah. Mereka tahu bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok tidak hanya dirasakan di Banda Aceh saja, tetapi juga dirasakan oleh orang tua yang sedang bekerja keras di kampung halaman.
Mereka memahami bahwa mencari uang hari ini tidak semudah yang dibayangkan. Karena itu, banyak mahasiswa memilih diam. Mereka lebih memilih menahan kebutuhan daripada harus menghubungi orang tua dan mengatakan bahwa uang mereka telah habis.
Mungkin inilah sisi inflasi yang jarang dibicarakan.Kita sering melihat mahasiswa beraktivitas di ruang kuliah atau bercanda dengan teman-temannya di taman kampus. Namun, di balik senyum lepas yang terlihat, ada pikiran yang terus berputar tentang bagaimana uang yang tersisa bisa cukup hingga beberapa hari ke depan. Atau bahkan kecemasan tentang biaya kos yang segera jatuh tempo, sedangkan uang belum tampak hilalnya.
Inflasi sering kali dibahas melalui angka, grafik, dan laporan ekonomi. Padahal, di balik angka-angka iu terdapat kisah nyata yang dialami oleh semua kalangan terimbas, tak terkecuali para mahasiswa. Harga barang dan jasa terus meningkat sementara uang saku tak bertambah. Sayangnya, persoalan ini sering dianggap sebagai masalah pribadi yang harus diselesaikan oleh mahasiswa itu sendiri. Padahal, sebagai kota pendidikan, Banda Aceh menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa dari berbagai daerah dengan kondisi ekonomi yang beragam. Ketika biaya hidup kian tinggi, tekanan yang dirasakan mahasiswa tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari saja, tetapi juga dapat memengaruhi proses belajar dan kualitas pendidikan mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Syifa-Safura-OKE.jpg)