Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Unsyiah: Kucing dan Ayam Jago

DUA minggu terakhir ini roda Rektorat Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) berputar cepat, dan hampir tidak bersuara

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Otto Syamsuddin Ishak

DUA minggu terakhir ini roda Rektorat Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) berputar cepat, dan hampir tidak bersuara. Ibarat iklan sebuah mobil: Wessss..! Berlalu tanpa suara. Artinya, tak semua akademisi mengetahui dan mau membicarakan apa yang sedang terjadi pada level rektorat demi kesehatan Unsyiah.

Kebanyakan mereka menunggu pemantik dari luar. Seakan, suasana akademi begitu represif sehingga akademisi tidak berani keluar dari tempurung bidang ilmunya untuk membicarakan perihal akademi pada level rektorat.

Akibatnya, seorang kolega, misalnya, merasa mendapatkan info yang eksklusif manakala ditelepon genggamnya tersimpan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ia merasa info itu hanya beredar di kalangan terbatas. Ia enggan membagikan tafsirnya pada publik. Padahal seorang aktivis mahasiswa saja memiliki hal itu, dan sudah mendiskusikannya di kantin dan warung kopi.

Tidak ada perbincangan di milist para akademisi. Setidak-tidaknya, SK tersebut bukan wacana para akademisi tetapi sebuah “senjata sapu jagat” yang sedang memenggal puncak piramid struktur akademi. Padahal, sebuah SK yang menyangkut nasib akademi, tentunya bisa mendorong lahirnya tafsir legal dan sosial, sehingga kita segera bisa melangkah untuk memikirkan bagaimana masa depan akademi.

 Gagap menyikapi perubahan
Saat bertemu dengan beberapa kolega, ada kesan mereka gagap untuk menyikapi perubahan yang demikian cepat itu, yang didominasi oleh hiruk-pikuk pemilukada Aceh. Ibaratnya, mereka seakan berhadapan dengan pilihan yang sulit: Apa kita segera menolong “kucing gunung” yang jatuh ke selokan, atau membantu menghangatkan tubuh dan  mengeringkan sayap “ayam jago” yang baru dientaskan dari sumur?

Untunglah Editorial Serambi (14/04/2012) mewacanakan 2 hal tentang Unsyiah: Pertama, tentang arah ke depan akademi, dan; Kedua, tentang eksklusivitas elite akademi. Hal ini, selain bisa memberanikan akademisi untuk berwacana di ruang publik, juga publik Aceh mendapat info awal tentang perkembangan di Unsyiah.

Memang hampir setiap rezim akademi menciptakan slogan yang menjelaskan kemana arah akademi ke depan. Ada yang mengatakan akan menjadikan akademi sebagai universitas riset. Tetapi lembaga riset yang sudah menasional justru mati, seperti anak ayam kelaparan di lumbung padi. Ada rezim yang meriakkan akademi akan menjadi world class university. Tetapi prasarana toiletnya macam di terminal bus tahun 70-an. Antagonis yang tragis.

Sebenarnya setiap individu memiliki hasrat, juga kaum akademisi. Masalahnya hasrat itu dihimpun seperti daftar belanja ke pasar.  Hasrat itu tak berkembang menjadi sebuah imajinasi berakademi, yang tertuang di dalam sebuah statuta. Di satu pihak, ada keinginan sebuah akademi yang bercitra (bersistem) demokratis, sehingga ada saling kontrol antara rektorat dan senat universitas.

Tetapi, dalam kenyataannya statuta akademi yang dipelihara adalah yang memungkinkan akumulasi kekuasaan dan membuka celah untuk terbangunnya kultur money politic.

Rektor merangkap ketua senat universitas, dan anggota senat menjadi sekrup yang diputar oleh rektor. Tambahan pula, sejak berdirinya, akademi itu memang belum memiliki kultur pergantian kekuasaan yang sehat. Dulu sangat politiking, sekarang menjadi politik uang. Pendahulu sering berakhir seperti nasib kucing gunung jatuh ke selokan, dan pelanjutnya kerap seperti ayam jago yang baru diangkat dari sumur, yang dikerumuni banyak orang.

 Momentum perubahan
Sekarang, alam memberikan momentum untuk perubahan bagi Unsyiah. Tantangan ke depan, paling tidak, adalah menjawab pertanyaan Editorial Serambi, yang dapat dianggap sebagai representasi suara dari ruang publik. Untuk menjawab itu, maka rezim harus memiliki imajinasi berakademi, bukan sekadar menslogankan hasrat. Tentu langkah awalnya adalah mereformasi statuta, karena itulah payung konstitusi bagi akademi.

Apalagi konteks sosial Aceh demikian cepat berubah, maka akademi harus selalu mereposisikan dirinya. “Jantung” pendidikan Aceh bukan lagi monopoli Unsyiah (dan IAIN). Hal itu tinggal sebagai monumen sejarah saja. Sekarang tantangannya menjadikan Unsyiah minimal sebagai kiblat akademi lainnya yang ada di Aceh.

Problem Aceh bukan lagi kekurangan guru sekolah dan sarjana pengisi birokrasi sebagaimana yang terjadi pada era 1960/70-an. Mungkin, sambil mempertahankan keistimewaan Aceh di bidang pendidikan, maka akademi diorientasikan selangkah lebih ke depan, yakni barangkali Aceh sudah tiba pada tahap membutuhkan banyak pemikir.

Dalam konteks sosiologis, mungkin Unsyiah merekonstruksi struktur kelas menengah, agar terisi oleh lebih banyak individu yang produktif dari pada yang hanya memantas-mantaskan dirinya dengan kekuasaan dan gaya hidup yang pesolek (dan konsumtif).

Dalam perbincangan singkat dengan seorang dekan, ia mencontohkan kelas menengah di Iran, Cina, India dan Kuba yang kian menguat; sebaliknya kelas menengah Amerika yang kian keropos. Jika yang pertama mencerminkan negara yang sedang melejit menuju pasang; maka yang kedua menandakan negara yang rentan menuju surut.

Nah, bagaimana Unsyiah menciptakan dirinya sebagai mesin produksi kelas menengah yang kuat, yang sesuai dengan kebutuhan Aceh dewasa ini dan ke depan? Lalu, kebijakan demikian diadvokasikan sehingga menjadi kebijakan pemerintah Aceh, dan mendapatkan dukungan secara nasional dan regional.

 Menjadi publik figur
Untuk hal yang terakhir itu berkaitan dengan apa yang dikatakan Serambi bahwa diperlukan rezim yang bisa menjadi publik figur. Bukan sekadar akademisi yang berlindung di balik tempurung besi universitas, dengan dalih kebesaran gelar dan kesibukan keilmiahan yang asosial.

Figur itu memiliki kesadaran sejarah tentang kelahiran Unsyiah, dan sekaligus kepekaan sosial terhadap posisi Unsyiah di dalam masyarakat Aceh yang sedang menjalani transisi pascakonflik dan bencana gempatsunami.  

Ke dalam, figur itu pun dapat mengorientasikan kaumnya di Unsyiah untuk berelasi secara intensif dengan masyarakat dan alam Aceh, serta berjaringan dengan pusat-pusat produksi keilmuan dan teknologi nasional dan global, sehingga Unsyiah pun menjadi sebuah akademi glokal.

* Otto Syamsuddin Ishak, Sosiolog.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved