Opini
Memberdayakan Mahasiswa Aceh di Luar Negeri
Brain drain adalah salah satu masalah terkompleks dalam isu migrasi sumber daya manusia di dunia
Oleh Putra Rizkiya
MENARIK sekali artikel yang berjudul “Investasi Pendidikan Aceh” (Serambi Indonesia, 2/5/2012), yang ditulis oleh Saudara Saiful Akmal dan Heru Pahlevi. Mereka khawatir akan konsekuensi negatif program beasiswa berupa brain drain dan juga menyangkut isu lapangan kerja bagi alumni beasiswa pemerintah Aceh di luar negeri.
Sebagaimana dikutip dari tulisan tersebut, brain drain adalah sebuah fenomena perpindahan kaum intelektual dari dunia ketiga ke negara maju akibat kegagalan negara asal dalam menyediakan lapangan kerja yang cukup dan sesuai dengan harapan para golongan terpelajar tersebut. Kondisi ini, tentu saja, bisa menghambat pembangunan di daerah asal.
Brain drain adalah salah satu masalah terkompleks dalam isu migrasi sumber daya manusia di dunia. Salah satu solusi yang ditawarkan untuk brain drain adalah brain transfer. Penulis mendefinisikan brain transfer sebagai upaya transfer pengetahuan dan informasi dari mahasiswa dan intelektual di luar negeri ke daerah asal selama studi.
Kemudahan akses informasi
Sebagaimana diketahui, mahasiswa di luar negeri terutama di negara-negara maju seperti Jerman, Inggris, Australia dan Amerika Serikat mendapatkan kemudahan akses informasi dan pengetahuan. Kemudahan ini termasuk akses yang sangat baik terhadap informasi, jurnal-jurnal dan buku-buku yang tidak ada di Indonesia.
Hal ini dapat dilihat sebagai potensi yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan daerah melalui transfer pengetahuan dan informasi lewat skema brain transfer. Namun brain transfer membutuhkan visi bersama, determinasi dan koordinasi yang kuat dalam jaringan mahasiswa Aceh di luar negeri.
Oleh karena itu, untuk memanfaatkan skema brain transfer secara maksimal ke daerah, diperlukan adanya jaringan ilmiah mahasiswa Aceh yang kokoh dan luas di luar negeri. Namun sayangnya, jaringan ilmiah mahasiswa Aceh di luar negeri saat ini masih lemah.
Mahasiswa Indonesia, khususnya mahasiswa Aceh telah membentuk banyak organisasi mahasiswa di banyak negara. Akan tetapi, sebagian besar dari organisasi mahasiswa ini bersifat jaringan sosial (social network), bukan jaringan ilmiah (scientific network). Dengan bahasa awam, organisasi-organisasi mahasiswa ini hanya bertujuan untuk memperkokoh jalinan silaturrahmi.
Pembentukan jaringan ilmiah sendiri bisa dikatakan kurang mendapat perhatian. Hal ini sangat disayangkan mengingat banyaknya ilmuwan, peneliti dan mahasiswa asal Aceh di luar negeri sebenarnya berpotensi menciptakan intellectual diaspora yang kokoh.
Aplikasi brain transfer
Untuk memaksimalkan strategi brain transfer, sangat diperlukan adanya paradigma baru dalam organisasi mahasiswa Indonesia dan Aceh secara khususnya di luar negeri. Jaringan organisasi-organisasi mahasiswa Aceh di luar negeri perlu mengiringi paradigma jaringan sosial dengan paradigma jaringan ilmiah. Jaringan ilmiah inilah yang berperan penting sebagai tool untuk skema brain transfer.
Jaringan ilmiah mahasiswa Aceh di luar negeri ini perlu dikembangkan di seluruh dunia. Ia dapat berada di bawah naungan organisasi-organisasi mahasiswa Aceh di banyak negara, seperti organisasi mahasiswa Aceh di Jerman, Turki, Inggris, Australia, Cina dan lain-lain.
Perlu dibentuk bidang tersendiri dalam organisasi-organisasi ini yang berfungsi memperlancar proses brain transfer, yang bisa disebut sebagai bidang “konsultan pembangunan daerah”. Yaitu, bidang organisasi mahasiswa Aceh di luar negeri yang berfungsi sebagai wadah bagi intelektual dan mahasiswa-mahasiswa Aceh yang berasal dari berbagai bidang studi, yang menawarkan keahliannya bagi pihak yang membutuhkan (stakeholder) di daerah.
Bidang konsultan pembangunan daerah bisa menjadi tambahan finansial bagi organisasi dan mahasiswa yang terlibat. Bidang ini nantinya yang akan berperan dalam transfer pengetahuan ke daerah. Keberadaan konsultan pembangunan daerah ini perlu dipromosikan ke daerah, sehingga masyarakat dan pemerintah Aceh dapat memanfaatkan strategi brain transfer ini secara maksimal.
Transfer pengetahuan dan informasi terjadi melalui komunikasi dan konsultasi antara mahasiswa yang tergabung dalam bidang konsultan pembangunan daerah dengan pihak yang membutuhkan di Aceh. Komunikasi ini bisa dilakukan melalui teknologi sehari-hari seperti email dan skype.
Membutuhkan referensi
Pihak yang membutuhkan bisa meliputi masyarakat Aceh biasa, mahasiswa dan peneliti di Aceh yang membutuhkan referensi langka, dosen-dosen, kontraktor dan pengusaha di daerah hingga pemerintah Aceh sendiri.
Pemerintah daerah dapat berperan skema brain transfer dengan membentuk semacam badan koordinasi yang membantu menghubungkan dan mengarahkan masyarakat Aceh dengan konsultan pembangunan daerah ini.
Skema brain transfer menguntungkan baik mahasiswa bersangkutan maupun masyarakat Aceh. Selain bisa menjadi tambahan finansial selama studi, hal ini juga akan membuka jaringan di daerah bagi mahasiswa sehingga lebih mudah dalam mencari pekerjaan setelah lulus.
Sedangkan bagi masyarakat di Aceh, skema brain transfer ini akan membuka akses pengetahuan dan informasi yang tidak terjangkau di dalam negeri. Dengan ini, potensi keberadaan mahasiswa dan intelektual Aceh di luar negeri dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pembangunan Aceh.
* Putra Rizkiya, Master of Urban Agglomerations, FH Frankfurt-University of Applied Sciences, Jerman.