Tafakur
Lupa Asal-Usul
Kita manusia diingatkan untuk tak pernah melupakan asal-usul. Sebab, melupakan asal-usul bisa membuat lupa diri
Oleh: Jarjani Usman
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yaa Siin:77).
Kita manusia diingatkan untuk tak pernah melupakan asal-usul. Sebab, melupakan asal-usul bisa membuat lupa diri, sehingga bisa menghasilkan perilaku tak pantas.
Meskipun jelas disebutkan bahwa manusia diciptakan dari setetes air mani, tidak sedikit yang begitu saja melupakannya sehingga menyombongkan diri di muka bumi ini. Disuruh mengambil hukum Allah agar tidak tersesat dalam menjalani hidup ini, (sebahagian) manusia malah bersusah payah mencari dan melaksanakan hukum-hukum lain, yang jauh dari kesempurnaan. Akibatnya, berantakanlah kehidupan manusia dengan ketidak-adilan, diskriminasi, kepunahan, dan sejenisnya.
Padahal mempelajari dan menerapkan hukum Allah, pahalanya berlipatganda. Setiap titik keringat yang keluar dari tubuh dalam mempelajarinya juga akan berpahala, apalagi setiap detik usia yang digunakan. Sedangkan melaksanakan hukum selain hukum dari Allah, sama artinya dengan mencari dosa dengan menantang suruhan Allah, melaksanakan yang tidak disuruh dan mengabaikan yang diwajibkan. Dengan kata lain, berani dengan sengaja berbuat kufur.
Sungguh tak sepatutnya kita terus tenggelam dengan perilaku-perilaku yang sifatnya menantang dan menentang Allah. Sepantasnya ada upaya untuk bantu-membantu dalam mencari selamat dunia dan akhirat, dengan bersungguh-sungguh menerapkan hukum Allah.