Citizen Reporter
Berziarah ke Makam Nabi Yusya’
BUDAYA ziarah makam di kalangan rakyat Iran tak akan tertandingi oleh masyarakat kita di Indonesia
Budaya ini tidak terlepas dari anjuran agama, terlebih bagi pengikut Mazhab Alhul Bait yang sangat menekankan perlunya ziarah.
Di Iran, tempat ziarah yang paling sering dikunjungi warganya maupun peziarah dari luar negeri adalah Haram Imam Riza di Masyhad dan Haram Fatimah Maksumah di Kota Qom, Iran.
Beberapa hari lalu, saya bersama teman-teman pelajar asing dari berbagai negara berziarah ke kuburan Nabi Yusya’ bin Nun di kawasan Takhte Fulod, lima kilometer dari pusat Kota Isfahan, Iran. Banyak warga terlihat duduk mengelilingi kuburan tersebut dengan membaca doa-doa ziarah.
Di kompleks ini, selain kuburan Nabi Yusya’, juga ada kuburan ulama-ulama besar Iran. Tak terhitung pula jumlah kuburan para syuhada Perang Irak-Iran. Kunjungan kami ke kompleks ini bertepatan dengan ulang tahun pembebasan Kota Khuramsyah, Iran yang dikuasai oleh tentara Irak pada era Saddam Husein. Dalam peperangan itu, meski banyak yang syahid, Iran dengan senjata seadanya berhasil membebaskan Kota Khuramsyah tersebut.
Kuburan para syuhada berjejer rapi sepanjang mata memandang. Di atas setiap kuburan ditempel foto syuhada bersangkutan. Selain itu, ada ratusan kuburan syuhada tanpa foto, karena tak dikenal namanya dalam bahasa Persia sering disebut, Oromgoh Ghumnom (tempat ketenangan para syuhada tanpa nama).
Warga Isfahan menyebutkan ada ribuan syuhada dimakamkan di tempat itu. Dalam bahasa Persia makam syuhada disebut Oromgoh (tempat ketenangan). Tapi dalam kenyataannya, tempat tersebut selalu saja riuh oleh ramainya orang berziarah, bahkan pada malam hari.
Ziarah malam dimungkinkan, karena kompleks kuburan itu diterangi banyak lampu. Juga dihiasi sedemikian rupa sehingga yang datang ke tempat itu terkadang tidak saja masyarakat yang ingin berziarah, tapi ada juga yang sekadar berwisata spiritual atau sekadar makan bersama keluarga.
Banyaknya peziarah ke kompleks makam Nabi Yusya’ dan para syuhada perang tersebut tentu saja tak sebanding dengan banyaknya peziarah ke Sayyidah Fathimah Maksumah dan Imam Musa Ridha. Kedua makam suci itu tak pernah sepi dari para peziarah asal Iran maupun luar.
Sejumlah riwayat menyebutkan keutamaan Haram Sayyidah Maksumah di Qum bagi siapa saja yang berkesempatan menziarahinya. Ada riwayat yang menyebutkan, menziarahi Sayyidah Maksumah sama pahalanya dengan menziarahi makam putri nabi tercinta, Fathimah Zuhra.
Karena selalu sesak dan sulitnya untuk sekadar memegang jeruji besi di haram tersebut, saya sempat bertanya kepada guru saya warga Isfahan, Ruhullah Zareiy, kapan waktu yang agak sepi untuk berziarah? “Tidak ada waktu sepi, selalu ramai siang-malam,” katanya. Sepanjang yang saya amati, faktanya memang demikian.
Musim dingin beberapa bulan lalu, saya bersama empat orang kawan Indonesia juga berziarah ke Haram Imam Ridha di Masyhad. Keramaian di tempat suci ini mengalahkan semua tempat ziarah di Iran. Bermaksud ingin berziarah lebih dekat, saya pernah bersiasat untuk ziarah sebelum shalat subuh di musim dingin yang dipenuhi salju. Saya sengaja pergi satu jam lebih awal sebelum azan Subuh berkumandang. Ternyata, siasat saya tak berhasil. Meski di luar kompleks haram dipenuhi salju, rupanya peziarah menjelang subuh justru lebih ramai daripada biasanya. Wallahu ‘alam. Semoga itu bukan ziarah terakhir saya. (*)
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com