Rabu, 8 April 2026

RAMADHAN MUBARAK

Momentum Berbakti Kepada Orang Tua

Pada bulan ini nilai ibadah dilipatgandakan, doa-doa dikabulkan, dosa diampuni, pintu surga dibuka, sementara pintu neraka ditutup

Editor: hasyim
zoom-inlihat foto Momentum Berbakti Kepada Orang Tua
Tgk. H. Faisal Ali Ketua PWNU Aceh

Oleh Tgk. H. Faisal Ali
Ketua PWNU Aceh

RAMADHAN merupakan ‘tamu agung’ yang datang dengan membawa segudang peluang dan kesempatan emas bagi kita, untuk mengumpulkan amalan sebanyak-banyaknya sebagai bekal kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Ramadhan adalah bulan yang terdapat kemuliaan dan keistimewaan yang amat besar yang tidak kita jumpai pada bulan-bulan lain.

Pada bulan ini nilai ibadah dilipatgandakan, doa-doa dikabulkan, dosa diampuni, pintu surga dibuka, sementara pintu neraka ditutup.

Ramadhan dengan segala keistimewaan itu sangat tepat apabila kita gunakan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, seperti meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua kita.

Dalam bulan ini kita punya banyak kesempatan untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua yang selama ini terabaikan akibat aktivitas dan kesibukan kita yang padat.

Ramadhan maknanya secara harfiah adalah “panas”, yaitu membakar dosa-dosa yang pernah dilakukan dengan menahan makan dan minum dan apa-apa yang membatalkannya. Salah satu kealpaan kita sebelumnya yang memerlukan pembakaran adalah kelalaian dalam hal berbakti  kepada kedua orang tua. Sebab, apa pun yang kita lakukan tanpa ridha kedua orang tua kita, maka tidak akan berarti apa-apa. Rasulullah saw bersabda, “Rida Allah tergantung rida kedua orang tua dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua.” (HR. Thabrani)

Keterkaitan puasa dengan berbakti kepada kedua orang tua secara implisit tergambar dalam definisi puasa. Puasa dalam pandangan sebagian ulama adalah menahan diri dengan niat dari berbagai hal tertentu, pada waktu tertentu, dari orang tertentu, dan dengan syarat-syarat tertentu. Menahan diri ini juga berlaku dalam hal penggunaan finansial atau materi antara menafkahi diri sendiri, anak istri dan kedua orang tua secara proporsional harus diwujudkan dalam pelaksaan ibadah puasa ini.

Pahala yang tidak terukur besarnya akan kita dapatkan dari harta yang kita nafkahkan untuk keluarga dan terlebih lagi kepada kedua orang tua. Selain pengorbanan Rasulullah kepada kita sebagai umatnya juga pengorbanan kedua orang tua yang mendapat penghargaan yang sangat tinggi di sisi Allah swt. Banyak ibadah yang menjadi ringan karena keduanya, salah satunya pengecualian wajib menyahuti panggilan darurat dari keduanya dengan bahasa mereka sekalipun kita dalam melaksanakan shalat sunat.

Persepsi dan pengetahuan yang utuh tentang berbakti kepada kedua orang tua akan menghindarkan diri dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Bisa tidak sempurna ibadah puasa Ramadhan disebabkan oleh kelalaian dalam memenuhi hak kedua orang tua kita. Persepsi yang utuh tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua akan mendorong tumbuhnya motivasi dari dalam diri untuk menjalani ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.

Berbuat baik kepada orang tua bukan hanya terfokus pada sesuatu yang bersentuhan langsung dengan keduanya seperti membawanya ke dokter, membelikan baju, dan memenuhi kebutuhannya yang lain, perbuatan yang memberi manfaat dan mendatangkan nilai positif di tengah-tengah umat adalah bagian berbakti kepada keduanya.

Sebaliknya, berbuat kerusakan, kekacauan, dan kemaksiatan yang menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah umat manusia sama artinya dengan mendurhakai keduanya karena baik buruknya perbuatan seseorang pasti dinisbatkan kepada orang tuanya. Pada intinya setiap pekerjaan yang menyebabkan kedua orang tua kita dicela orang lain termasuk dalam mendurhakai kedua orang tua.

Rasulullah saw bersabda, “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela ayahnya. Ia mencela ibu orang lain, lalu orang itu membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari). (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved