Citizen Reporter
Berpuasa di Tunisia
TUNISIA yang terletak di bagian utara benua Afrika, mayoritas penduduknya muslim. Bermazhab Maliki
AHMAD F, Mahasiswa Universitas Azzitona, melaporkan dari Tunisia
TUNISIA yang terletak di bagian utara benua Afrika, mayoritas penduduknya muslim. Bermazhab Maliki. Islam merupakan agama resmi negara ini. Urusan agama di sini diurus oleh Kementerian Agama dan urusan fatwa berada di bawah Mufti Negara.
Hal ini tentu berpengaruh ketika masuk fase penetapan awal dan akhir Ramadhan. Manakala masuk 29 Syakban dan 29 Ramadhan, Pemerintah Tunisia melalui Mufti Negara melakukan rukyah hilal sebagai pedoman dalam isbat (penetapan) awal dan akhir Ramadhan.
Keputusan mufti tersebut diikuti oleh seluruh rakyat, sehingga di Tunisia tak pernah kita dengar perbedaan pendapat dalam penetapan awal dan akhir Ramdhan. Ini, antara lain, bedanya dengan negara kita.
Tahun ini kebetulan Ramadhan di Tunisia jatuh pada hari Jumat. Begitu diumumkan masuk Ramadhan, masyarakat spontan menyambutnya dengan suka cita. Kalimat “Ramadhankum Mabruk” (semoga Ramadanmu penuh berkah) pun sering kita dengar di seantero Tunisia. Suasana Kota Tunis sebagai ibu kota negara spontan berubah, karena Ramadhan. Tak ada rumah makan dan kafe yang buka siang hari, kecuali untuk turis asing. Jarang kelihatan warga Tunis yang terang-terangan tak puasa di muka umum. Juga tak ada warung yang ditutupi dengan kain, sehingga yang kelihatan hanya kaki para konsumen, seperti acap terlihat di terminal kota-kota besar Indonesia.
Di Tunis, yang tampak adalah wajah-wajah mereka yang ikhlas menahan lapar demi meraih rida Allah, meski Ramadhan tahun ini pada musim panas dengan suhu 4O derajat dan siangnya lebih panjang.
Masjid Zaituna
Salah satu masjid yang bersejarah di Kota Tunis adalah Masjid Agung Zaituna yang berarsitektur klasik. Didirikan tahun 732 M, masjid ini berada di tengah-tengah kawasan kota tua, dikelilingi pertokoan pasar tradisional dan bangunan-bangunan antik bergaya Andalusia.
Shalat Tarawih di masjid tua nan bersejarah seperti Zaituna, menyiratkan nuansa yang berbeda dibanding tempat lain. Terutama karena azan masih dilakukan oleh seorang muazin dengan naik ke atas menara tanpa pakai mik, khasnya azan pada masa Rasulullah.
Dulu, sebelum revolusi Tunis, Masjid Agung Zaituna saat Tarawih selalu dipimpin oleh Syekh Muhammad al Khatwi, ulama Tunis berusia 100 tahun. Semangatnya tak kalah dengan anak muda. Bacaannya cepat, lancar, dengan lagu qiraat yang khas. Namun, sekarang hampir semua mesjid diambil alih oleh anak muda yang hapal Quran.
Shalat Tarawih di Masjid Zaituna juga menyiratkan harapan dan semangat keislaman yang kuat ketika menyaksikan antusiasme muslim Tunis berduyun-duyun ke masjid untuk shalat Tarawih. Orang-orang tua dan anak-anak muda begitu semangat berjalan untuk shalat berjamaah ke masjid yang usianya sudah lebih dari 12 abad itu.
Di masjid ini Tarawih dilaksanakan 20 rakaat, setiap dua rakaat sekali salam. Imam shalat umumnya membaca ayat Alquran 1 juz setiap malam dengan qiraat Qalun, model bacaan Alquran yang diriwayatkan oleh Qalun (wafat tahun 220 H), dari Nafi (wafat 169 H). Nafi adalah ulama ahli qiraat yang diakui sebagai salah satu dari 7 imam qiraat sab’ah--tujuh model qiraat yang diterima dunia Islam sebagai qiraat Alquran. Model bacaan qiraat Qalun memiliki beberapa perbedaan dengan qiraat Hafs, qiraat yang populer di Indonesia.
Ada juga hal unik lainnya di Tunis. Ketika masjid-masjid penuh, kafe-kafenya pun ramai. Kafe-kafe antik di kawasan Old Tunis, sekitar Masjid Zaituna, pada malam-malam Ramadhan ini malah kian semarak. Orang-orang duduk santai menikmati kopi, kadang sambil main kartu, diiringi lagu-lagu Arab klasik yang syair-syairnya berisi pesan keagamaan. Meski di kafe, tapi lagu-lagunya berupa syair kaum sufi, salawat, atau sanjungan atas keagungan Ramadhan. Diam-diam, mereka yang duduk di kafe pun tak mau kalah dengan saudara-saudaranya yang tengah Tarawih di masjid.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com