RAMADHAN MUBARAK
Syahrul Tarbiyah
BULAN Ramadhan disebut juga sebagai Syahrul at-Tarbiyah (Bulan Pendidikan).
Oleh Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA
Rektor IAIN Ar-Raniry
BULAN Ramadhan disebut juga sebagai Syahrul at-Tarbiyah (Bulan Pendidikan). Lingkup pendidikan yang dimaksud adalah sedemikian luas, menyangkut tarbiyah jasadiyah, tarbiyah fikriyah, dan tarbiyah qalbiyah. Proses pendidikan itu berjalan selama sebulan penuh. Bagi mereka yang lulus, maka disebut sebagai seorang yang bertakwa dan kembali menjadi fitrah.
Sebagai tarbiyah jasadiyah, maka seseorang yang sedang berpuasa tidak diperbolehkan makan, minum, dan melakukan hubungan seksual di siang hari serta hal lain yang membatalkan puasanya. Orang yang sedang menjalankan ibadah puasa dilatih untuk mencegah melakukan sesuatu yang sebenarnya disukai dan dibolehkan pada bulan lainnya. Nafsu atau keinginan yang bersifat jasadiah selalu menghendaki kebebasan yang seluas-luasnya. Mengonsumsi makanan dalam jumlah tidak terbatas merupakan sumber penyakit dan atau bahkan malapetaka, namun tidak semua orang menyadarinya.
Adapun tarbiyah fikriyah, seseorang yang sedang berpuasa dilatih untuk tidak memikirkan makanan, minuman, dan seks, tetapi diarahkan untuk berpikir pada hal-hal yang lebih besar dan mulia. Orang berpuasa dianjurkan banyak membaca Alquran, berzikir atau ingat Allah. Kitab suci memberikan keterangan tentang Tuhan, penciptaan, alam, manusia, dan jalan menuju keselamatan. Maka artinya, dengan berpuasa seseorang diajak berpikir tentang sesuatu yang seharusnya diketahuinya.
Adapun tarbiyah qalbiyah adalah bahwa seseorang yang sedang berpuasa dilatih untuk membersihkan hatinya dari hal-hal yang menjadi penyakit hati, seperti terlalu mencintai harta, suka marah, bakhil, dengki, hasut, tamak, permusuhan, dan lain-lan. Sebaliknya, pada bulan Ramadhan seseorang yang berpuasa dilatih untuk banyak bersyukur, mencintai antarsesama, tolong-menolong, banyak bersedekah, peduli terhadap orang miskin, anak yatim, dan seterusnya.
Pendidikan melalui berpuasa seperti dikemukakan itu dilakukan sebulan penuh. Apabila puasa itu dilakukan dengan ikhlas, disadari bahwa ibadah itu tidak ada yang mengawasi kecuali Allah sendiri, maka pelatihan atau tarbiyah dalam waktu satu bulan tersebut akan mewarnai kehidupan yang bersangkutan pada bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian, maka puasa tidak saja diartikan sebagai kegiatan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, tetapi benar-benar akan menjadi bulan pendidikan bagi yang menjalankannya.
Dalam aspek yang lain, puasa Ramadhan juga memberikan pendidikan kepada umat muslim antara lain: Pertama, puasa Ramadhan mendidik untuk disiplin. Kedua, puasa Ramadhan mengajarkan kepada manusia untuk melakukan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Ketiga, puasa Ramadhan mengajarkan untuk selalu bersilaturahmi melalui kegiatan shalat berjamaah, menyediakan makanan berbuka untuk orang yang berpuasa, serta memberikan zakat fitrah.
Keempat, puasa Ramadhan mengajarkan kepada manusia untuk peduli kepada orang lain atau peduli sosial. Kelima, puasa Ramadhan mengajarkan bahwa hidup manusia harus mempunyai nilai ibadah. Keenam, puasa Ramadhan mengajarkan untuk selalu hati-hati dalam setiap perbuatan, tidak bergunjing, fitnah, ghibah, dan lain sebagainya.
Ketujuh, puasa Ramadhan mengajarkan supaya kita tabah dalam menghadapi berbagai macam rintangan dan halangan. Ketika ada orang yang mengajak untuk bergunjing, menghasut atau berkelahi, bagi orang yang berpuasa disunahkan mengatakan, “Saya sedang berpuasa.” Kedelapan, puasa Ramadhan mengajarkan akan adanya tujuan setiap perbuatan, yakni mencapai derajat takwa.
Kesembilan, puasa Ramadhan mengajarkan untuk hidup hemat dan sederhana. Kesepuluh, puasa Ramadhan mengajarkan tentang pentingnya rasa syukur atas nikmat-nikmat yang diberikan Allah. Rasa syukur akan nikmat makanan yang telah dipunyai ketika berbuka. Seseorang yang berpuasa bukan karena tak ada makanan untuk dimakan, tetapi orang lain ada yang menahan rasa lapar dan dahaga karena memang tidak ada yang hendak dimakan dan diminum. (*)