LIBaS

Negasi

KATA negasi, biasanya dikenal dalam ilmu filsafat atau matematika. Dalam ilmu filsafat, negasi berarti tiada atau peniadaan

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Negasi
Suparno ST, Founder Ayam LepaaS
KATA negasi, biasanya dikenal dalam ilmu filsafat atau matematika. Dalam ilmu filsafat, negasi berarti tiada atau peniadaan. Lalu apa kaitannyanya dengan bisnis?

Banyak orang terperangkap dalam masalah besar yang sulit diselesaikan, mengapa? Karena mereka menegasikan masalah kecil. Mereka menganggap masalah itu tidak ada, padahal ada. Mereka lupa bahwa masalah kecil bisa tumbuh menjadi besar. Prinsipnya, masalah bukan untuk dihindari, tapi untuk diselesaikan.

Banyak orang gagal menjadi kaya, mengapa? Karena mereka menegasikan ide-ide untuk menjadi kaya. Sehingga mereka hanya perhatikan ide-ide kecil seperti menjadi pegawai. Prinsipnya, orang yang bekerja pada orang lain, kecil kemungkinannya untuk menjadi kaya, kecuali memperkerjakan orang lain. Banyak yang sukses bukan karena ia tidak pernah gagal. Justru orang gagal yang menegasikannya.

Orang sukses selalu mengapresiasi kegagalannya untuk diperbaiki. Bicara tentang negasi. Bukan sekedar untuk membahas bahwa sebagian orang gagal atau sebagian orang sukses. Tetapi yang ingin kita sampaikan adalah tentang apa yang harus kita perbuat ketika gagal dan apa yang harus kita perbuat ketika sukses. Ada pepatah menyebutkan “Ketika kamu sukses, teman-temanmu akan tahu siapa kamu. Ketika kamu gagal, kamu akan tahu siapa teman-temanmu.”

Kalau kita mengapresiasi anugrah Allah SWT maka nikmatnya akan ditambah, terus ditambah dan ditambah lagi. Namun bila kita menegasikan anugrah Allah SWT, bukan hanya nikmat yang terus berkurang, malah kita akan mendapatkan azab dari Allah SWT. Contoh, bisa jadi kita punya uang banyak, tetapi dicabut kenikmatan kesehatan. Bisa jadi kita kaya, tetapi tidak punya banyak waktu. Bisa jadi kita punya kekuasaan, tetapi tidak punya kemerdekaan.

Pembaca setia LIBaS, jika kita ingin menjadi pebisnis yang sukses, belajarlah untuk mengapresiasi diri kita, termasuk kesalahan kita dan seluruh stakeholder. Apresiasilah, pasangan kita, orang tua kita, teman-teman kita,  karyawan-karyawan kita dan yang lainnya. Insya Allah, dengan mengapresiasinya dan bukan menegasikannya, “maka apa yang kita pegang akan menjadi
emas.”

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved