Identitas Musik Aceh

Sebagai ilustrasi; Saleum adalah awal untuk dimulainya pertunjukan seni tardisi Aceh

Editor: hasyim

(Saleum Group)

Oleh Anton Sabang


Assalamualaikum lon tamong lam seung,
Lon jak bri saleum keu bang syekh teuku….
Kru seumangat lon tamong lam seung,
Lon jak bri saleum ke jamee teuku….


Sebagai ilustrasi; Saleum adalah awal untuk dimulainya pertunjukan seni tardisi Aceh. Saleum adalah karakter dan keunikan setiap jenis pertunjukan kesenian Aceh, pembeda dari jenis kesenian etnis (suku) lain di Nusantara. Saleum merupakan nilai kepatutan dalam sistem pergaulan (norma susila) sosial politik dan ekonomi masyarakat Aceh. Saleum merupakan doa bagi umat muslim. Sedangkan  Saleum Group adalah salah satu komunitas seni Aceh yang mengambil fokus seni music etnis Aceh, eksis sejak pascatsunami (26/12/2004) lalu.  

Ini berawal dari rasa keprihatinan terhadap pesatnya bisnis industri musik Aceh hari ini, bersamaan dengan kuatnya tingkat apresiasi masyarakat Aceh umumnya terhadap karya musik Aceh. Tetapi,  industri musik Aceh hari ini  cenderung kehilangan identitas dan terputus dari alur historis estetik masyarakat Aceh. Industri musik Aceh telah tercerabut dari akar budaya dan kehilangan bentuk idealnya. Industri musik Aceh secara perlahan terus ditinggalkan oleh generasi muda saat ini. Kesimpulan atau asumsi ini mungkin saja bersifat subyektif, terkesan kondisional sektoral atau  berlebihan.

Musik Aceh dalam perspektif musikologi adalah musik yang lahir dan berkembang dari setiap etnik (suku) Aceh yang berupaya merepresentasikan dan mentransformasikan berbagai nilai sistem sosial budaya Aceh. Sementara sejarah perjalanan musik Aceh berpijak dari akar budaya timur tengah - Melayu Islam Nusantara. Dalam paradigma etnomusikologi,  keberagaman musik Aceh yang lahir secara natural merupakan proses keberlanjutan dari nilai sosio-religi masyarakat Aceh, berlandas pijak pada estetika timur yang terus diinterpretasi dandikembangkan dalam khasanah budaya Islam Melayu.

Berbeda dengan kelompok musik lain, Saleum Group adalah salah satu dari banyaknya kelompok musik Aceh yang sudah melahirkan dua album etnis Aceh. Karya-karya terbaik mereka sudah begitu akrab di indra pendengar mayoritas masyarakat Aceh baik dekat dan yang jauh dari hiruk pikuk budaya urban. Sepintas jika diamati karya-karya yang mereka hadirkan begitu konsisten dengan spirit sistem sosio religi masyarakat Aceh. Dengan kekuatan syair dan jalinan melodi telah membentuk atmosfir yang berbeda dari kelompok musik lainnya. Sistem modul yang menghadirkan bunyi bersifat estetis, logis dan etis (normatif), bahkan konsep “kesederhanaan” dalam melahirkan setiap karya mencuat di setiap komposisi karya musik mereka. Konsep ini merupakan menifestasi dari paham sufistik dan ajaran teladan Rasul Muhammad SAW  untuk hidup dalam prinsip kesederhanaan.  Hal ini tidak hanya dalam proses pembentukan karya seni (penciptaan),  tetapi juga menyangkut peran dan fungsinya. Kesenian (seni musik) merupakan salah satu produk budaya yang ditujukkan dan disumbangkan untuk masyarakat. Allah melarang penciptaan suatu karya seni yang melampaui batas, “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas.”

Nilai kesederhanaan dalam setiap karya sebagai penunjuk  ke-Aceh-an yang melekat dalam pengalaman dan latar pendidikan dari setiap personil Saleum Group, mewujud nyata dalam kompleksitas nilai dan unsur-unsur musik di setiap bentuk komposisinya. Saleum Group dimotori oleh Imam Juaini dengan vokalis Yakop Samalanga yang unik dan punya karakter eksotis natural. Mereka adalah anak-anak muda Aceh yang memiliki kesadaran akan antropologi musik dalam laku penciptaan, sehingga musik sebagai ekspresi jiwa dan budaya begitu kental mewarnai. Anak-anak muda Aceh yang berlatar muslim sejati ini, memiliki konsep bahwa seni dalam medium bunyi sebagai ciptaan manusia berbentuk keindahan, dengan kaidah-kaidah normatif seperti yang dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali: “Seni berkaitan dengan rasa jiwa manusia sesuai dengan fitrahnya”. Ekspresi musikal dalam Saleum Group yang ditransformasikan melalui unsur-unsur musik maupun isi yang terkandung memiliki nuansa religi memuat kesan infinitas (ekspresi abstrak) dan transendensi sebagai tuntutan hidup untuk mencerahkan ruang sosial budaya masyarakat, terkait dengan ajaran tauhid dalam Alquran.

Di lain hal Saleum Group dalam mewujudkan dan merepresentasikan unsur-unsur musik seperti melodi (irama), ritme, dinamik dalam disiplin musik Barat tidak dihilangkan, tetapi sebaliknya paradigma estetika musik barat tersebut diramu dan dikolaborasi secara ketat dan kreatif, sehingga keselarasan dan keseimbangan “Barat” dan “timur” dapat ditemukan dalam setiap karya yang hadir. Bahkan ketika unsur-unsur tradisi musik Barat dan tradisi musik timur (Islam) diramu menjadi satu kesatuan melahirkan keunikan tersendiri dan memiliki karakter yang berbeda dengan karya musik yang pernah ada. Penggabungan dua kutub (barat dan timur) nyaris tidak terjadi dominasi bunyi dan walau memiliki latar kultur yang berbeda teknik stilisasi permainan para personel menghasilkan “warna musik” yang sesuai dengan memori audio masyarakat Aceh.

Dalam Album Saleum Group ke 2  yang diarasemen oleh Taupiq (opay) dan disutradarai olehDramawan sekaligus Penyair Aceh Fauzan Santa dkk, kerja-kerja kreatif kolektif mereka (audio dan visual) tersusun dari beberapa bagian atau modul yang dikombinasikan untuk merekonstruksi identitas ke-Aceh-an dalam kesatuan medium yang lebih luas. Dari sembilan title seperti Gura, Meulinteung Saheh, Riwang, Sembahyah 5, Syahid Mulia, Syukur, Saweub ie Beuna II, Aneuk Glueh dan Allahuli, adalah sebuah entitas yang memiliki keutuhan dan kesempurnaan dalam menyosialisasikan sistem budaya dataran rendah pesisir pantai yang berlandas akar budaya Islam.  

Karya yang merepresentasikan estetik musik Aceh tidak luput dari hasil kreativitas dan perenungan komposer muda berbakat Aceh Surya Darma. Pola ritme, melodi (irama), dinamik serta aksen dalam setiap motif nada dengan tradisi pertunjukan seni Islam menunjukkan adanya kombinasi keberlanjutan dari modul dasar histeriografi terkait penyebaran budaya Islam. Unsur-unsur musikal disusun dan dipadukan untuk membangun sebuah wirama yang lebih universal, utuh dan independen tanpa harus menghilangkan identitas dan karakteristik sistem budaya Aceh, sehingga dalam tema lagu tidak hanya ada pada satu fokus, melainkan beragam fokus yang dibidik terkait dengan sejumlah persoalan realitas sosio budaya dengan motif-motif melodi dalam satu frase. Konstruksi komposisi karya Saleum Group adalah suatu persepsi ke dalam  menghilangkan kesan adanya permulaan maupun akhir yang terpisah dari rangkaian melodi yang mengalir.

Kesan agung, sakral, sedih dan riang dalam komposisi karya Saleum Group diekspresikan melalui pola pengulangan dalam intensitas yang cukup menyentuh audio penikmat bahkan tidak terjadinya jarak. Kombinasi pengulangan terhadap motif dalam satu frase terstruktur dengan baik mencitrakan dimensi sosio religiusitas masyarakat Aceh dulu hingga sekarang. Karakteristik yang dianggap relevan secara universal dimiliki oleh semua unsur medium dalam level yang paling subtil, kuat,  dan unik.

Jika diamati dalam paradigma fungsi dan tujuan seni dapat ditarik kesimpulan bahwa Saleum Group memilih jalan bahwa “seni bukan untuk seni” tetapi “seni untuk masyarakat”. Dalam pemahaman ini, karya seni merupakan hasil dari olah pikir seorang (intektual) dan olah rasa yang menyatu dengan keyakinan (keimanan) seniman penciptanya. Terkait dengan hal tersebut Saleum Group menciptakan karya-karya musiknya tidak bertujuan untuk seni itu sendiri dan mereka masih sangat menyadari bahwa setiap personel dalam mengolah rasa dan pikir  tidak dapat lepas dan bebas dari tata kesusilaan dan norma-norma yang hidup di tengah-tengah masyarakat Aceh. Karya seni dicipta bertujuan untuk kehidupan masyarakat, dan berfungsi sebagai media alternatif dalam membentuk perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik.

Seni musik yang lahir di era ini mesti diarahkan dalam satu proses pendidikan yang bersifat positif dalam perspektif Islam, menggerakkan semangat keadilan, pelita batin, dan pemicu rekonstruksi akhlak. Artinya,  seni musik yang berorientasi industri seharusnya bersifat “Al-amar bil ma’ruf dan an-nahy ‘an munkar  (menitahkan untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran).”  Juga  membangunkan akhlak terpuji bagi masyarakat, bukan membawa kemungkaran dan juga bukan sebagai perusak akhlak. Semua aktivitas kesenian niscaya ditundukkan kepada tujuan terakhir (keindahan illahiyah dan keridhaan Allah serta ketaqwaan).Semua nilai yang termuat mesti ditundukkan dalam hubungan-Nya serta kesanggupan berserah diri, sehingga fungsi seni menjadi media untuk meningkatkan ketakwaan.

*Penulis adalah koreografer Aceh dan pengamat seni musik Aceh, dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry Banda Aceh

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved