Bayi Anensefali Dapatkan ASI Pertama dari Ibunya
Setelah 12 hari terpisah, bayi asal Simeulue yang lahir tanpa batok kepala (anensefali), dipertemukan dengan ibunya di Ruang Neonatal
Akan tetapi, bayi itu tidak langsung menetek pada ibunya, karena masih harus tetap berada di ruang inkubator. Kondisi fisiknya pun belum memungkinkan untuk didekap sang ibu, sehingga air susu (ASI) ibunya harus diperah menggunakan alat pemerah susu (breast pump).
Setelah terkumpul sekian cc, ASI tersebut dimasukkan ke dalam dot. Lalu seorang perawat mengarahkan karet dot itu ke bibir si bayi. Ia nikmati dengan lahap ASI eksklusif dari wanita yang melahirkannya.
Sebagaimana diberitakan terdahulu, Yusmalinda melahirkan bayi itu melalui persalinan normal (per vaginam) atas penanganan bidan Ayu Maiba Lestari di Puskesmas Teupah Selatan, Kamis, 3 Januari 2013. Namun, karena pendarahan hebat, Yusmalinda dipisahkan dari bayinya, sehingga ia tak tahu persis kondisi si bayi. Apalagi ia langsung dirujuk ke RSUD Simeulue.
Sejak saat itulah ibu dan anak ini terpisah. Bayinya dirujuk ke RSUZA Banda Aceh, karena terlahir tanpa tempurung kepala. Bayi itu disegerakan ke Banda Aceh didampingi ayahnya untuk menghindari kejadian fatal akibat radiasi terhadap otak, mengingat secara medis bayi anensefali biasanya hanya mampu bertahan hidup 24-28 jam. Kecuali saat bersalin, Yusmalinda tak pernah bertemu lagi dengan bayinya itu. Kemarin merupakan pertemuan pertama mereka.
Yusmalinda tiba di Banda Aceh menumpang ambulans dari Labuhan Haji, Aceh Selatan, bersama ibu dan anak sulungnya, didampingi Direktur RSUD Simeulue, dr Hanif.
Yusmalinda langsung dipersilakan masuk ke ruang tempat anaknya dirawat. Dia hanya bisa berdiri kaku di depan tabung inkubator bayinya itu. Namun, ia mengaku bahagia bisa bertemu dengan anaknya itu, setelah ongkos keberangkatannya dari Simeulue disumbang oleh Ketua DPRK setempat.
Pancaran kebahagiaan tampak jelas di mata Yusmalinda karena akhirnya bisa bertemu lagi anaknya. Bayi ini tergolong kuat. Hingga hari ke-12 Selasa kemarin ia masih mampu bertahan. Kondisi kesehatannya pun secara umum lebih baik dibanding saat ia pertama masuk Ruang NICU RSUZA.
Yusmalinda datang ke RSUZA, selain untuk melihat bayinya juga untuk kelanjutan perawatan atas dirinya yang mengalami pendarahan hebat saat melahirkan di Simeulue. “Kondisi ibunya baik-baik saja, namun perlu perawatan medis juga setelah melahirkan,” kata dr Hanif. Direktur RSUD Simeulue itu melanjutkan ucapannya, “Kita akan terus berkoordinasi dengan dokter spesialis mengenai penanganan lebih lanjut untuk si ibu dan anaknya.” Kondisi bayi itu kemarin, kata seorang perawat, masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Secara kasatmata, ia sehat-sehat saja. (r)