Selasa, 28 April 2026

Citizen Reporter

Belajar dari Desa Kreatif di Thailand

SALAH satu program pembangunan yang berhasil di Thailand adalah OTOP. One tambon one product (OTOP) pada dasarnya adalah suatu konsep

Editor: bakri
OLEH ASRUL SIDIQ, Penerima Beasiswa Pemerintah Aceh, studi di Asian Institute of Technology Thailand, melaporkan dari Thailand

SALAH satu program pembangunan yang berhasil di Thailand adalah OTOP. One tambon one product (OTOP) pada dasarnya adalah suatu konsep atau program untuk menghasilkan satu jenis komoditas atau produk unggulan yang berada dalam suatu kawasan tertentu. Pengertian kawasan dalam hal ini bisa meliputi suatu areal wilayah dengan luasan tertentu. Di Thailand, areal dimaksud adalah wilayah kecamatan (tambon).

Model OTOP yang mengadopsi konsep OVOP (one village one product) di Jepang ini didukung oleh produk dari sektor pertanian maupun sektor industri kerajinan. Jenis produk unggulan yang telah berhasil dikembangkan melalui program OTOP terdiri atas enam kelompok besar. Yakni makanan, minuman, tekstil, kerajinan tangan (souvenir), hiasan (ornamen), dan tanaman obat/rempah.  

Dalam salah satu kesempatan kuliah lapangan (field trip) ke kawasan pedesaan di Kabupaten (District) Tha Yang di Thailand, saya berkesempatan berkunjung ke beberapa lokasi kelompok masyarakat yang mengembangkan produk OTOP tersebut.

Di antara lokasi OTOP yang saya kunjungi adalah produksi beras, anggur (wine), dan kain sutera. Dalam kunjungan ke lokasi produksi beras, saya menjumpai kelompok masyarakat petani yang memproduksi beras organik. Komunitas masyarakat petaninya sudah sangat kuat, di mana mereka bekerja bersama-sama secara berkelompok. Mereka bekerja sama tidak hanya dalam hal yang terkait produksi, tetapi juga terkait permodalan dan pemasaran.

Sementara dalam produksi anggur dilakukan oleh sekelompok wanita di pedesaan yang berjumlah 15 orang. Produksi anggur ini bahkan banyak yang untuk diekspor.

Selain dari produk makanan dan minuman saya juga berkesempatan mengunjungi produksi tekstil berupa kain sutera Thailand. Ada tiga kriteria untuk memilih produk OTOP tersebut. Pertama, masyarakat yang memproduksi produk yang unik akan mendapatkan prioritas. Kedua, produk harus memiliki standar yang tinggi. Ketiga, harus ada tenaga yang memadai dalam kelompok untuk menjamin produksi yang tepat dan cepat.

Program OTOP ini mendapat dukungan kuat dari pemerintah di berbagai tingkatan. Peran pemerintah di sini adalah mengidentifikasi produk potensial untuk dijadikan OTOP, memberi saran kepada produsen, menjaga kualitas kemasan, kontrol dan desain yang membuat produk mereka lebih menarik di pasar domestik dan ekspor.

Selain itu pemerintah memberikan dukungan dalam pemasaran. Pengaturan dari rantai pasar dan penggunaan sistem internet telah didorong dalam rangka memperluas pasar dan saluran distribusi dari produk-produk tersebut.

Sebuah pengalaman yang menarik dari OTOP di Thailand ini adalah kawasan (kecamatan/desa) yang semula miskin, berubah menjadi desa yang masyarakatnya makmur. Gerakan satu desa/kecamatan satu komoditi ini meskipun dilakukan dalam konteks gerakan masyarakat dalam pembangunan daerah, namun salah satu inti dari gerakan ini adalah bagaimana menciptakan produk unggul dan memiliki daya saing yang berasal dari keunggulan, keunikan, dan kekhasan yang dimiliki.

Keberhasilan OTOP di Thailand ini juga telah mengundang lembaga lain untuk berperan aktif dan menggalakkan promosi dan pameran, seperti yang diprakarsai oleh Otoritas Pariwisata Thailand dan Badan Investasi. Selain dapat memberikan kontribusi terhadap sektor ekonomi, program ini juga dapat menunjang sektor pariwisata.

Aceh memiliki produk unggulan yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain. Di antaranya adalah kopi di Aceh Tengah, pala di Aceh Selatan, dan kerajinan bordir di Aceh Besar. Untuk itu, diperlukan pengembangan produk unggulan yang sesuai dengan potensi daerah.

Hadirnya satu atau lebih produk unggulan dari satu gampong di Aceh tentunya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama di pedesaan. Tentunya tidak salah jika kita dapat mengambil pelajaran dari program OTOP di Thailand ini. Apalagi program ini juga sejalan dengan arah pembangunan Aceh ke depan yang lebih menitikberatkan pada bidang investasi dan juga pengembangan sektor pariwisata.
[email penulis: asrul_mosa@yahoo.com]

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved