Menatap Aceh
Gua Hasil Kerja Paksa Masa Jepang
PADA bulan Mei 1942, sekitar 300 masyarakat di Gampong Blang Panyang dan sekitarnya, yang kini masuk Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe
Para romusha (buruh atau pekerja paksa tanpa bayaran) itu bekerja siang dan malam hingga tujuh bulan lamanya. Pada Desember 1942, program kerja paksa itu memberikan hasil 17 buah gua, plus 8 banteng pertahanan yang dibangun di depan gua-gua tersebut..
Sedangkan di bagian dalam, setiap gua disekat sehingga berbentuk beberapa kamar. Di gua-gua inilah para tentara Jepang tinggal sekaligus sebagai benteng pertahanan untuk menahan serangan pejuang kala itu.
Di era kemerdekaan, lokasi ini menjadi salah satu kawasan wisata favorit bagi masyarakat Kota Lhokseumawe dan sekitarnya.
Meski belum pernah dipugar sama sekali, lokasi ini tetap saja ramai pengunjung, karena selain melihat gua-gua peninggalan penjajahan Jepang, warga bisa menikmati pemandangan luas saat berada di atas perbukitan tersebut, terutama pada sore hari menjelang tenggelamnya matahari (sunset).
Saat konflik melanda Aceh tahun 1990-an, lokasi wisata ini sepi dari pengunjung. Kondisi terakhir, dari 17 gua, hanya 12 yang bisa dimasuki masyarakat. Sedangkan sisanya telah dipenuhi semak belukar. Di saat damai telah kembali bersemi di Aceh, warga berharap agar Pemko memugar kembali objek wisata penuh sejarah ini.



