Serambi Kuliner
Sayur Asam Rasa Tamiang
MANIS, asam, dan manis. Demikian rasa menu yang satu ini. Kekhasan rasa kuahnya, begitu terasa di lidah. Inilah sayur asam khas Aceh Tamiang
PINTU masuk Aceh. Inilah julukan lain bagi kabupaten pemekaran Aceh Timur yang berbatasan Kota Langsa dan Langkat, Sumatera Utara, ini. Ragam kuliner tersedia di sana. Apalagi, penduduk di Bumi Sedia Muda itu heterogen, dengan dominasi suku teuming/melayu. Salah satunya, sayur asam Aceh Tamiang. Meski namanya asam, tak lantas membuat siapapun yang memakan sayur ini memicingkan mata. Pada kuliner edisi ini, Muhammad Nasir memaparkan tentang ramainya rasa sayur asam yang menjadi khas di Aceh Tamiang.
MANIS, asam, dan manis. Demikian rasa menu yang satu ini. Kekhasan rasa kuahnya, begitu terasa di lidah. Inilah sayur asam khas Aceh Tamiang. Sayuran ini merupakan salah satu ciri khas kabupaten itu.
Sayur asam Aceh Tamiang ini berbeda dengan sayur asem khas Sunda atau daerah lainnya. Perbedaaan itu terlihat dari bahan yang digunakan. Untuk sayur asam khas Tamiang, menggunakan asam gelugur, ditambah sayuran jagung muda, kacang panjang, melinjo, daun melinjo, dan kol. Lalu, ragam sayuran dan kelengakapan menu itu, direbus. Hasilnya, hmmm... sangat nikmat.
Kekentalan tiga rasa yang melekat di lidah, membuat sayur ini tak bisa lekas lekang dari ingatan penikmatnya. Baru mencicipi satu sendok, tentunya ingin lagi... lagi... dan lagi. Hingga tanpa terasa, mangkuk kosong.
Eit... Tunggu dulu!!! Masih ada satu lagi campurannya: terasi tamiang. Nah, terasi ini menjadi pelengkap rasa dalam sayur ini. Rasa pedas legit yang diumbar oleh terasi ini, kian membuat lidah bergoyang. Rasanya, tak puas bila belum menghabiskan semangkuk kuah asam ini.
Bila ingin mencicipi menu ini, tidak perlu repot. Jika ke Aceh Tamiang, kuliner khas ini tersedia di rumah makan di sekitaran Jalan Medan-Banda Aceh, Simpang BTN, depan Kantor Bupati Aceh Tamiang. Mudah kan?
Namun, tidak setiap hari rumah makan di sana menyediakan menu ini. “Hanya ada setiap Senin dan amis,” ujar Zulkifli (46), pemilik warung Barona.
Banyak yang bilang, sayur asam Tamiang ini merupakan menu rakyat. Julukan itu ditabalkan lantaran bahan-bahan yang digunakan untuk sayur ini mudah didapat. Seluruh bahannya ada di sekeliling lingkungan masyarakat. Lagian, harganya pun murah.
Tapi, bukan berarti julukan menu rakyat ini menjadikan gambaran menu dimaksud sebagai makanan kelas bawah. Konon, dulu sayur asam Tamiang ini merupakan menu makanan raja. Bahkan, menu dimaksud menjadi sajian utama untuk tetamu kerajaan.
Kini, sayur asam tersebut telah menjadi masakan khas Aceh Tamiang. Sayur asam yang saat ini didapati di mana-mana, terdapat dua model. Tipe pertama, sayur asam yang bumbunya dipotong-potong seperti bawang merah, bawang putih, serey, dan asam belimbing atau gelugur. Bahan-bahannya hanya dipotong-potong.
Satu lagi sayur asam bumbu giling. Namun, bumbunya harus ditambah kunyit agar berwarna. Untuk bisa menambah warna corak sesuai perkembangan kekinian, boleh juga ditambah wortel. Rasanya dari kedua model sayur ini, tak jauh berbeda. Tergantung selera penikmatnya.
Kekhususan terai yang membuncah rasa manis, asam, dan manis begitu kentara di lidah penikmatnya. Meski sayur asam hampir ada seluruh di seluruh daerah di Indonesia, kekhasan sayur yang satu ini bisa dijuluki sayur asam rasa Tamiang.(*)
Meski Sama, Tetap Berbeda
LAIN padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain sayur lain pula asamnya. Begitulah tamsil yang mencirikan keanekaragaman masakan di nusantara. Di Indonesia, hampir semua daerah mempunyai sayur asam. Namun, khas dan rasanya berbeda-beda.
Di Aceh Tamiang, sayur asam dapat ditemukan di warung-warung nasi di sana. Salah satunya rumah makan Baroena. Awalnya, warung ini hanya menjual air kelapa dan beberapa menu makanan ringan lainnya. Seiring banyaknya permintaan, Zulkifli, pemilik warung mengembangkan usahanya dengan menyediakan makan siang.
Saat memulai usaha, Zulkifli bingung hendak menjual masakan apa. Belakangan, dia mendapat ide, memasarkan masakan khas Aceh Tamiang. Ide tersebut pun diaplikasikan. Dia pun mulai menyediakan menu beragam: udang kecambe, acar, terasi, ikan asin, sayur asam, lemak ikan kakap, kari kambing, pepes, dan macam ciri khas Aceh maupun Aceh Tamiang.
Ternyata, dari sekian banyak menu tradisional yang disajikan, racikan kacang panjang, kol, dan daun melinjoe di sayur asam kian diminati. Di warung-warung, menu ini menjadi yang utama memanjakan selera.