Pelabuhan Kuala Bubon 8 Tahun Dinanti
Setelah sebelumnya anggota DPRK Aceh Barat mendesak agar pelabuhan penyeberangan Meulaboh-Simeulue di Kuala Bubon
“Keberadaan pelabuhan feri di Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat untuk penyeberangan Meulaboh-Sinabang sudah 8 tahun dinanti-nantikan oleh masyarat Simeulue,” ujar Sabaruddin, pengurus Hipmas di Meulaboh kepada Serambi, Sabtu (4/5).
Ia mengatakan, sejak pelabuhan feri yang lama hancur dihantam tsunami pada 26 Desember 2004 lalu di Ujong Kareng Suak Indrapuri Meulaboh, jalur pelabuhan dialihkan ke pelabuhan Labuhan Haji Aceh Selatan sehingga penduduk Simeulue yang berdomisi di Meulaboh dan di Banda Aceh sangat mengeluh sebab bila ingin pulang kampung harus menempuh perjalanan lebih jauh dan biaya lebih besar.
Dikatakannya, ongkos bus dari Meulaboh ke Labuhan Haji saja mencapai Rp 45.000-Rp 50.000 per orang dan biaya kapal dari Labuhan Haji ke Simeulue berkisar Rp 35.000-Rp 100.000 per orang menurut kelasnya.
“Namun bila ada pelabuhan feri di Meulaboh maka biaya akan lebih irit sehingga masyarakat Simeulue di Aceh Barat berharap Pemerintah Aceh untuk segera memacu pembangunan pelabuhan penyeberangan di Kuala Bubon itu,” harapnya.
Menurut Sabaruddin, Kabupaten Simeulue merupakan kabupaten pemekaran dari Aceh Barat dan saat ini banyak penduduk Simeulue yang menetap di Aceh Barat sehingga bila ada pelabuhan di Meulaboh seperti sebelum tsunami lalu maka transportasi laut Meulaboh-Simeulue akan lancar apalagi saat ini banyak anak-anak dari kabupaten Simeulue kuliah di Meulaboh.
“Karena itu penuntasan pembangunan pelabuhan Kuala Bubon sangat dinantikan masyarakat Simuelue, baik yang ada di Simeulue maupun di daratan Aceh,” imbuh Sabaruddin.(riz)