Nelayan Hilang
Jasri Enam Jam Bertahan di Tiang Perahu Apung
JASRI (52), warga Desa Palak Hulu, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) merupakan salah satu penjaga bagan yang selamat
Saat dibesuk Serambi di kediamannya di Desa Palak Hulu, Rabu (15/5) siang kemarin, Jasri mengaku meski kondisi kesehatannya sudah membaik, namun ia masih trauma dengan kejadian tersebut. Peristiwa tersebut masih terbayang dalam pikirannya.
Jasri menceritakan, badai yang memunculkan ombak besar itu awalnya terjadi Kamis siang dan berlanjut hingga tengah malam, sehingga membuat ia harus bekerja keras bersama temannya Budiansyah (23) warga Desa Pantee Perak untuk menguras air yang masuk ke lambung perahu.
Akibat kelelahan, akhirnya pukul 03.00 WIB Jasri tertidur, dan baru terbangun kembali sekitar pukul 06.00 WIB. Dalam suasana pikiran dan penglihatan belum stabil, ditambah dengan kondisi perahu yang sudah miring sebelah itu, ayah tiga orang anak itu langsung melihat air di lambung perahu.
Dengan perasaan gundah, ia segera membangunkan Budiansyah memberitahukan lambung perahu sudah dipenuhi air. Budiansyah yang mendengar lambung perahu sudah dipenuhi air, lalu menelpon Juli, pawang bagan yang ditumpanginya itu untuk meminta bantuan.
Tragis, saat meminta bantuan, tiba-tiba ombak besar kembali menghantam perahu tersebut, hingga mengakibatkan perahu yang mereka tumpangi karam dan hanyut.
Melihat badan perahu yang sudah tenggelam, Jasri dan Budiansyah lalu memanjat ke tiang bagan. Setelah dua jam hanyut dibawa arus, barulah mereka melihat sebuah bagan lain yang selamat dari amuk badai. Lalu keduanya terjun ke laut berenang menuju bagan yang berjarak sekitar 40 meter dari mereka itu.
Budiansyah yang duluan berenang dengan cepat mengarungi lautan yang sedang diamuk badai. Sementara Jasri yang sudah berenang sekitar 15 meter kembali ke bagan karam. Meski sudah selamat kembali ke bagan karam, namun suami Nurma itu merasa sangat sedih, ketika berada di atas tiang itu, ia tidak melihat lagi Budiansyah, teman seperjuangannya itu. Jasri hanya bisa berdoa di atas tiang bagan karam yang terus dibawa arus itu.
Kemudian ia kembali melihat sebuah bagan lain yang selamat di tengah laut. Bagan itu bernama Niko, milik pengusaha di daerah itu. Ia lalu terjun dan berenang menuju bagan yang berjarak sekitar 20 meter darinya. Namun, merasa tak sanggup akibat kelelahan, ia pun kembali kembali bagan karam.
Pikiran Jasri semakin kacau setelah bagan yang ditumpanginya semakin jauh hanyut dibawa arus deras. Ia sedikit lega sekitar pukul 11.00 WIB, setelah dari kejauhan melihat sebuah boat menuju ke arahnya. Boat dikemudikan Yuli, yang tak lain adalah pawang bagan yang ditumpanginya itu langsung mendekat. Tapi karena boat tersebut tidak dempet dengan bagan karam, maka ia pun langsung terjun dan naik ke boat.
Melihat yang naik di atas boat hanya satu orang, lalu Pawang Yuli bertanya kepada korban di mana Budiansyah. Jasri yang sudah tertolong itu dengan spontan menjawab, bahwa Budiansyah sudah berada di bagan Fadhil.
Untuk mamastikan kebanaran itu, Pawang Yuli bersama anggotanya langsung menuju bagan tersebut, menanyakan keberadaan Budiansyah. Namun Yuli bersama anggotanya termasuk Jasri sangat terpukul, ketika mendengar jawaban, bahwa Budiansyah yang sering disapa Dek Yong itu tidak berada di atas bagan tersebut.
Budiansyah diperkirakan tenggelam dihempas ombak besar saat berenang menuju bagan Fadhil, bagan milik salah seorang pengusaha dari Kecamatan Suak Setia. “Sudah 30 tahun saya melaut, tapi badai yang terjadi Jumat dini hari itu merupakan yang terdahsyat,” kata Jasri yang mengaku pakaian dan semua perlengkapan memancingnya hilang dibawa arus.(azhari)