Serambi Kuliner
Sensasi Rasa, Nama, dan Bentuk
Sebenarnya, kalimat itu bukan sekadar candaan. Sebelum lebih dikenal dengan ayam tangkap, beragam nama ditabalkan
Sebenarnya, kalimat itu bukan sekadar candaan. Sebelum lebih dikenal dengan ayam tangkap, beragam nama ditabalkan oleh penikmat masakan ini. Kadang, menu ini disebut sebagai ayam sampah. Julukan tersebut diberikan lantaran ayam goreng disajikan bersama dedaunan khas Aceh, yakni daun temurui, sebagai pemberi aroma.
Ayam yang dihidangkan pun dipotong kecil-kecil berikut tulangnya. Setelah dibumbui, digoreng dalam wajan besar. Menjelang matang, dimasukkan daun temurui (salam koja, daun kari), rajangan daun pandan, cabe hijau, dan rajangan bawang merah. Karena penampilannya dengan dedaunan bercampur di antara potongan ayam, terlihat ayam tangkap ini mirip sampah.
Tak hanya itu, di beberapa tempat, masakan ini dijuluki juga dengan istilah ayam tsunami. Julukan itu muncul karena ayam dan dedaunan ditebarkan di piring seperti ketidakteraturan setelah bencana. Seperti halnya di rumah makan Aceh Baru. Menu ini dinamakan ayam tsunami.
Tanpa kedua elemen unik yang terakhir, rasanya sama saja dengan ayam goreng yang gurih dan lezat. Ketika disajikan, ada tiga unsur yang kita nikmati, yaitu rasa, aroma, bentuk.
Nama ayam tangkap sendiri baru populer di kalangan masyarakat sekitar enam hingga delapan tahun belakangan. Dinamakan ayam tangkap karena ayam yang dipilih merupakan ayam kampung yang dipelihara alami dan ditangkap terlebih dahulu sebelum dinikmati.
Nama ini juga menciptakan sensasi tersendiri. Konon, disebut ayam tangkap lantaran para pengunjung sering menggerutu saking lamanya menunggu. Maklum, menu ini harus digoreng berdasar pesanan, supaya rasanya lebih mantap. “Ayamnya sedang ditangkap, ya?” tanya kebanyakan pengunjung yang tak sabar menunggu.
Selain rasanya yang nikmat, mencari-cari ayam di dalam tumpukan daun-daun juga menjadi sensasi tersendiri. Begitu dapat dan merasakan gurihnya, pasti akan mencari-cari lagi.
Inilah perbedaan ayam tangkap dengan ayam goreng lainnya. Bentuk dan rasa makanan yang disajikan, bisa menjadi sesansi nama yang ditabal. Kata “tangkap” pun memang harus benar-benar dirasakan terlebih dahulu sebelum dinikmati.(Azwani Awi)