Menatap Aceh
Ketika 'Sang Naga' Mekar
KEHARUMAN menebar memenuhi areal kebun naga di Gampong Cot Cut, Aceh Besar. Aromanya semakin tajam seiring waktu yang kian larut
Berbekal senter kepala (head lamp), kuas, dan piring kecil, Husaini M Amin (Tgk Batee) dan beberapa anggotanya segera bergerak. Mendatangi satu per satu tanaman, singgah dari satu bunga ke bunga lain.
Malam itu, mereka menggambil alih tugas sang angin, kumbang, dan burung. Membantu dan memastikan terjadinya proses penyerbukan (pembuahan). Memburu waktu sebelum bunga layu esok paginya.
Buah naga yang memiliki nama latin Hylocereus undotus memang berbeda dari tanaman lain. Bunga dari tanaman jenis kaktus asal Meksiko dan Amerika Tengah ini hanya mekar pada malam hari sambil melepas aromanya yang wangi.
Tetapi karena morfologi bunga yang unik, di tambah lagi perbedaan lingkungan dengan tempat asalnya, maka penyerbukan jarang bisa terjadi. Hanya sedikit dari bunga-bunga itu yang menjelma menjadi buah.
Oleh sebab itulah diperlukan bantuan manusia untuk membantu terjadinya penyerbukan. Jika berhasil, maka kelak akan muncul buah naga kecil yang terus membesar hingga tiba masanya dipanen.
Buah naga dikenal kaya manfaat, dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Waktu hidupnya juga relatif panjang, mencapai usia 30 tahun. Sayangnya budidaya buah naga belum begitu populer di Aceh. Hanya ada beberapa tempat lokasi penanaman, termasuk salah satunya di Desa Cot Cut, yang digagas oleh mantan Panglima GAM Wilayah Batee Iliek, Tgk Batee.



