Serambi Kuliner

Legenda dari Mulut ke Mulut

Alkisah, ada dua kampung hidup berdampingan: kampung Beno Serule dan Akim Mengaya. Penghuni kedua kampung ini memiliki kebiasaan

Editor: bakri
Alkisah, ada dua kampung hidup berdampingan: kampung Beno Serule dan Akim Mengaya. Penghuni kedua kampung ini memiliki kebiasaan berburu bersama di hutan Bur Kelieten. Saat beristirahat di hutan, pemburu dari Beno Serule menanak nasi menggunakan kuali (wajan) dan kayu Genuli Hitam sebagai pengaduk. Begitu masak, ternyata nasi menjadi hitam. Merasa tidak layak dimakan, nasi itu mereka buang ke aliran sungai.

Tiga kali mereka mengulang menanak nasi, hasilnya tetap sama. Tiga kali mereka membuang nasi ke aliran sungai. Sampai keempat, karena semakin kelaparan, terpaksa mereka makan nasi hitam itu. Hanya pemburu dari Beno Serule yang makan, pemburu dari Akim Mengaya tidak makan. Setelah makan nasi itu, anehnya mereka malah berubah menjadi muda kembali.

Sepulangnya ke kampung halaman, orang-orang menjadi bingung sekaligus terpana melihat perubahan yang terjadi dengan para pemburu itu. Berkeinginan untuk awet muda, penduduk Beno Serule mengikuti cara para pemburu menanak nasi. Berbeda orang Beno Serule yang kembali muda, orang Akim Mengaya tetap hidup seperti biasa.

Ratusan tahun berlalu, orang Beno Serule masih tetap awet muda. Namun tampaknya kebahagiaan sudah tidak ada lagi di hati mereka karena terlalu lama hidup. Mereka menginginkan kematian datang. Untuk menyambut kematian, mereka mengumpulkan emas untuk dibelikan beberapa keranda mayat di kampung Akim Mengaya. Begitu keranda sampai ke kampung Beno Serule, tangis meledak di antara orang-orang Beno Serule. Saking bahagianya, mereka pun meninggal.

Beberapa dari mereka yang tidak ingin meninggal pindah ke Kampung Beno Nosar Bangil. Sampai sekarang, kampung ini masih ada di Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Tiga kuali nasi hitam yang dibuang di aliran sungai bermuara di danau itu dipercaya berubah menjadi ikan Depik. Mungkin karena nasi hitam itu, ikan Depik pun memiliki punggung hitam dan bagian kepala yang terasa pahit jika dimakan.

Benar tidaknya cerita itu, tidak perlu diperdebatkan. Biarlah menjadi penghias kehidupan bermasyarakat dan menambah kekayaan budaya. Semoga legenda ikan depik yang dikisahkan dari mulut ke mulut ini tetap terpelihara abadi sampai kapanpun.(Mahyadi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved