MTQ Ke 31
Peserta Syarhil Quran Getarkan Lapangan Beringin
Musabakah Tilawatil Quran (MTQ) ke-31 Aceh, Kamis (27/6) malam itu terasa sedikit berbeda
SUBULUSSALAM - Suasana di Lapangan Beringin yang menjadi arena perlombaan Cabang Syarhil Quran, Musabakah Tilawatil Quran (MTQ) ke-31 Aceh, Kamis (27/6) malam itu terasa sedikit berbeda.
Gelegar suara pensyarah merindinkan bulu roma. Sesekali merdu lantunan ayat suci Alquran yang dikumandangkan sang qari menambah gemuruh debaran jantung. Tidak lama setelah itu, suasana berubah syahdu begitu saritilawah mengartikan kalimat demi kalimat ayat-ayat yang dikumandangkan sang qari.
Ada enam regu yang memberikan syarahan, Nagan Raya, Banda Aceh, Pidie Jaya, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Aceh Jaya. Semuanya merupakan srikandi panggung yang gaya penyampaiannya serta isi syarhannya mampu menggetarkan para hadirin.
Pengunjung tanpa komando memberikan aplus begitu mendengar sindiran tajam yang disampaikan pensyarah kepada pemimpin Negeri ini. Sesaat kemudian penonton serempakteriak Allahu Akbar ketika qari membacakan ayat Alquran yang menjadi rujukan ceramah. Pada bagian lain, hadirin dibuat tidak bergeming dari posisinya masing-masing begitu saritilawah menyampaikan terjemahannya.
Penyampaian syarahan menarik disampaikan Kafilah Banda Aceh, yang terdiri Putri Karlina (Qariah), Raudatul Janah (Pengsyarah) dan Aufa Nura (Saritilawah). Kafilah ini mengambil judul syarah, ‘Urgensi Ahlakul Karimah dalam Membangun Karakter Bangsa yang Qurani.” Syarahan itu, sama dengan yang dibawakan kontingen Nagan Raya, namun dengan cara dan gaya penyampaian berbeda.
Di katakan, bangsa Indonesia merupakan bangsa besar, memiliki keindahan alam luar biasa dan perut buminya kaya raya, sehingga menarik pihak luar berlomba-lomba masuk ke Negeri ini. Akan tapi rakyat tetap sengsara bahkan jadi pekerja di tanah warisan nenek moyangnya. Kondisi itu terjadi akibat degradasi moral yang telah mencapai titik nadir.
“Praktisi hukum memperkosa hukum, ekonom merusak ekonomi. Hanya dengan iman dan taqwalah Negara akan mendapat keberkahan,” teriak Raudatul Janah.
Kemudian dalam bagian lain syarahanya, disinggung tingkah polah penegak hukum yang langsung menangkap penjahat kecil. Sementara koruptor besar didiamkan, malah pura-pura tidak tahu. Menurutnya, reformasi selama 14 tahun tidak membuahkan hasil, kemungkaran malah merajalela.
Raudatul mengajak menjadikan Alquran sebagai solusi untuk menyelesaikan problema Negeri ini. “Bila semua pihak sepakat mendasarkan hidupnya pada Alquran, maka rakyat Indonesia akan sejahtera,” katanya.
Sementara Kafilah Pidie Jaya, membawakan syarahanPemberantasan Korupsi Menuju Kesejahteraan Umat, Gayo Lues mengambil judul Perekatlah Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Aceh Tenggara, Pemberantasan Korupsi Menuju Kesejahtraan Umat dan Kafilah Aceh Jaya, mengambil syarahan Pemuda dan Pembangunan Masa Depan Bangsa.
Perlombaan Cabang Syarhil Quran tersebut, berlangsung hingga ralut malam namun penonton tidak beranjak hingga semua peserta menyampaikan syarahannya. “Aku senang mengikuti lomba Syarhil, karena ada nasihat yang bisa dimbil,” kata Cutnyadi pengunjung asal Subulussalam Barat.(c39)