Menatap Aceh

Rakyat Gayo Harus Bangkit

HARI ke hari, tanpa terasa sudah masuk hari kesepuluh paska gempa bumi berkekuatan 6,2 Skala Richter

Editor: bakri

HARI ke hari, tanpa terasa sudah masuk hari kesepuluh paska gempa bumi berkekuatan 6,2 Skala Richter (SR) yang menguncang Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Walau masih menyisakan luka, duka, serta trauma, namun suasana kebangkitan mulai terasa.

Aktifitas para korban bencana alam ini sudah terlihat. Mereka sudah mulai menata kehidupannya, walau masih sebagian kecil. Sarana air bersih misalnya, yang sempat hancur saat gempa, perlahan-lahan dibangun masyarakat secara gotong royong.

Demikian dengan meunasah, masjid, dan sarana lainnya. Walau masih serba darurat, namun sikap masyarakat untuk bangkit sudah ditunjukkan.

Gempa telah menghancurkan infrastruktur, ribuan rumah warga, ratusan sekolah bahkan puluhan orang dilaporkan meninggal dunia di dua kabupaten itu, tidak membuat masyarakat di sana semakin terpuruk. Walau tertatih mereka mengamalkan falsafah Gayo, “Kuinomen uwes kudoleten sedih, bier balik singkih mengunal penaru” (Kuminum prahara, kutelan kesedihan, biar susah harus bangkit memperbaiki diri).

Tinggal di bawah tenda serta menginap di kamp pengungsian, bukan halangan bagi warga di daerah bencana untuk menjalankan aktifitas sehari-hari. Masyarakat korban gempa yang notabene berprofesi sebagai petani, satu persatu mulai beranjak untuk membenahi kebun kopi, tanaman muda dan kebun tebu yang sempat “terbengkalai” selama beberapa hari paska bencana.

Negeri yang tercabik itu, kini mulai menggeliat. Bukan hanya aktifitas para orang tua untuk bangkit, namun kalangan remaja dan anak-anak juga sudah menunjukkan sikap keceriaan. Memori gempa yang terekam di benak mereka, justru dijadikan pemicu kebangkitan. Bangkit Gayo!!.

Foto dan teks: Mahyadi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved