Merpati Kecil, Menangkanlah Hatimu!
KHASANAH teater Banda Aceh, tampaknya berhutang budi pada pementasan Rumah Boneka, Jumat dan Sabtu malam akhir
Cerita berakhir ketika konflik antara Tommy dan Nora memuncak disebabkan rahasia itu dibongkar oleh Togar, meskipun bahaya perbuatan Togar urung kemudiannya ketika Togar mengembalikan dokumen hutang, dan membiarkan kasus itu berlalu. Konflik yang seyogianya melukiskan penderitaan Nora itu diakhiri dengan sikap Nora meninggalkan rumah, suami dan anak-anaknya, pergi ke alam bebas untuk kemenangan dirinya sendiri.
***
Kisah itu dibagi dalam tiga babak. Digarap dengan bagus memenuhi proses dialektik drama realis. Proses penggawatan di mana tesis diletakkan telah berjalan bagus. Kemampuan individual para pendukungnya sangat berguna untuk memadukan akting, dialog, dan bloking. Sangat teratur semuanya. sampai pada sintesis di babak kedua, semua berhasil baik. Selepas itu masalah mulai timbul.
Isi dialog Nora dan Lynda, yang menjadi bagian penting dalam komunikasi dengan penonton, tak bisa ditangkap dengan baik, bahkan di ruang tengah auditorium.
Entah karena mereka terbiasa bermain di ruang teater yang sempurna, pengucapan dialog keduanya agak merosot. Intonasi dan artikulasinya tidak cermat. Kesempatan bermelodrama di sini tidak dipergunakan. Padahal pada titik itu Nora harus berhasil dengan kuat membangun citra dirinya sebagai isteri yang sangat setia, tapi menderita, sekaligus penggambaran diri sebagai perempuan yang hakiki.
Ketika dr Franky, dokter yang sakit-sakitan, sahabat keluarga, atau entah apa lagi namanya membuka isi hatinya, Nora menolak. Adegan itu, seharusnya makin memperkuat posisi kesetiaan di satu pihak, tapi di pihak lain ia adalah wanita hakiki yang wajar saja menyimpan sesuatu dalam hatinya. Vokal dr Franky cukup bagus, sebagaimana para pemain laki-laki lainnya. Tapi Nora, di sini mengalami problema dialog.
Tak tau lah siapa yang harus disalahkan. Tapi kenyataan itu sangat merugikan. Penonton tak bisa memahami bagaimana penderitaan Nora yang dipendamnya selama delapan tahun.
Padahal penonton sangat toleran. Penonton hening, bahkan sampai berbisik pun tampaknya tak berani. Dialog-dialog panjang memang membutuhkan teknik vokal yang sempurna. Para pemain drama, atau bahkan sutradara pun sering mengabaikan masalah ini.
Dialog panjang menjadi kering, tanpa manajemen emosi. Suspensi yang kacau, bisa membuat drama sebagus Rumah Boneka itu menurun kehebatannya. Sehingga tak heran ketika pertunjukan berakhir, seorang ibu-ibu bertanya pada temannya. “Kenapa ya, Nora itu tega meninggalkan suami dan anak-anaknya, dan melepaskan tanggung jawab hanya kepada seorang pembantu?”
Pertanyaan itu agaknya mewakili perasaan penonton lain, ketika mereka harus menerima antiklimaks yang tampak dingin dan berantakan. Yang ingin dicapai Ibsen maupun Faiza, adalah keberpihakan kaum perempuan, atau penonton umumnya pada Nora.
Bahwa sikap Nora, adalah sikap yang benar dan cukup beralasan. Dan konsep kebahagiaan versi Herlambang, bersumpah untuk menyayangi, dan mempersembahkan rezeki yang melimpah, tak perlu digubris. Biarlah derita penindasan kaum lelaki itu dilawan secara berani. Nora si angsa putih, atau merpati kecil itu memang harus terbang ke alam bebas memenangkan hatinya.
Pertunjukan drama di manapun tak pernah sepi dari dosa-dosa kecil, dan terkadang dosa besar. Karya-karya seniman memang dihargai dengan penyampaian kritik. Dan sudah terbiasa pula sang seniman menampik kritik dengan menggunakan berbagai argumen.
Ego kesenimanan selalu membuat mereka menjadi mahluk yang agung dari yang lainnya. Itu soal biasa. Terhadap Rumah Boneka tidak hanya pantas dipuji-puji, tapi juga dikritik sebagai respon atas keberhasilannya.
Itulah pelajaran penting bagi kaum teaterawan di daerah ini. Inspirasi yang diprakarsai Komunitas Tikar Pandan seharusnya membangunkan seni teater di sini yang telah lama tertidur. (Sjamsul Kahar)
Teater Rumah Boneka
* Rumah Boneka merupakan sebuah naskah karya yang diadaptasi dari karya asli penulis drama asal Nowegia, Henrik Ibsen berjudul “A Doll’s House”.
* Drama realis ditulis pada abad ke-19, sekitar 100 tahun yang lalu
* Ditermahkan untuk Indonesia oleh dramawan kondang dan sekaligus aktivis perempuan Faiza Mardzoeki
* Teater yang berkisah tentang perempuan itu diperankan oleh aktris nasional antara lain Heliana Sinaga, Ayu Dyah Pasha, Ayez Kassar, Teuku Rifnu Wikana, Willem Bevers, Pipien Putri. Serta dua anak Aceh, yaitu Nahla Azayaka Rivadsyaharani dan Sultan Pasha
* Di Aceh, pertunjukan teater bertajuk “Rumah Boneka” ini dilaksanakan oleh Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Institut Ungu, didukung Kedutaan Besar Norwegia untuk Indonesia
* Pertunjukan berlangsung di Gedung Sultan Selim II, Banda Aceh, Jumat dan Sabtu (30-31 Agutus) malam
* Sebelumnya, teater ini telah berlangsung di beberapa daerah, seperti Jakarta, Bandung, juga di Timor Leste