LIBaS
Pelabuhan
PELABUHAN merupakan induk bisnis, semua kota besar di dunia pasti memiliki pelabuhan
PELABUHAN merupakan induk bisnis, semua kota besar di dunia pasti memiliki pelabuhan, hampir tidak ada kota-kota besar di Indonesia yang tidak memilik pelabuhan sebagai pusat penggerak ekonomi.
Mengapa demikian? karena kota merupakan pusat bisnis, di mana produk dan jasa diperjualbelikan. Dari sini kita juga dapat mengetahui bahwa suatu produk dinilai dengan harga dan kualitas, nilai kompetitif ini pula yang berpengaruh kepada proses pengadaan bahan akan satu produk yang dijual.
Mustahil jika produsen dapat memproduksi produk yang berkualitas jika bahan baku sulit didapat dan akses mendapatkan sulit karena transportasi massal yang mahal atau pengangkutan barang yang tidak tepat waktu. Maka, pelabuhan merupakan akses penting bagi lancarnya perekonomian suatu daerah.
Tidak heran, jika saat Belanda melirik Sumatera bagian utara yang meliputi Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau, mereka terlebih dahulu membangun transprotasi yang terhubung ke pelabuhan. Di Aceh, Belanda membangun Pelabuhan Ulee Lheue yang dihubungkan dengan lintasan jalan kereta api hingga ke Sumatera Utara. Pilihan membangun pelabuhan dan akses jalan kereta api tersebut pasti telah melalui banyak kajian dan pertimbangan strategis tentang jalur distribusi logistik perang serta ekspor impor. Karena itu juga menyangkut eksistensi VOC sebagai pedagang dan penjajah.
Mengapa saat itu Belanda tidak memilih Belawan yang jaraknya kurang 30 km dari Istana Maimun? Mengapa justru memilih investasi yang sangat mahal serta sangat berisiko dengan membangun rel kereta api sepanjang lebih dari 600 km dari Ulee Lheue hingga ke Istana Maimun. Sementara saat itu, Aceh tidak dikuasai secara mutlak oleh Belanda; artinya kapan saja Aceh bisa menghancurkan jaringan logistik utama ini serta merampas semua muatannya yang pada akhirnya dapat dipakai untuk melawan Belanda.
Semua risiko saat itu, diabaikan oleh Belanda, mereka tahu persis bagaimana membuka pintu gerbang bisnis di Aceh. Dan dunia mencatat Pelabuhan Ulee Lheue dan Sabang, misal, menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal-kapal besar para saudagar yang merapat ke Aceh. Ulee Lheue dan Sabang adalah pelabuhan tersibuk ketika itu dan memberi konstribusi bagi perekonomian di Aceh masa penjajahan. Kita tentu masih ingat, bagaimana Sabang itu bergeliat dan para pedagang Aceh ketika itu menjadi golongan orang-orang kaya melebihi para pedagang di pulau Jawa.
Apa yang dilakukan Belanda membangun pusat bisnis di Aceh, kiranya patut direnungi kembali oleh para penguasa saat ini, bahwa pelabuhan memiliki peran penting bagi hidup dan berkembangnya perekonomian Aceh. Sabang dan Ulee Lheue pernah bersinar dan berkembang sebagai pelabuhan tersibuk di dunia ketimbang Singapura. Namun Ulee Lheue dan Sabang redup ketika Pemerintah menutupnya
Belanda telah menepis risiko besar dengan membuka Ulee Lheue dan Sabang sebagai pelabuhan dari jalur bisnis ketika itu. Dengan analisa sederhana, bisa disimpulkan bahwa bagi Belanda “semua nilai keunggulan kompetitif Pelabuhan Ulee Lheue plus jaringan rel kereta api yang mahal serta berisiko ketika itu, justru lebih menguntungkan dibanding membangun pelabuhan Belawan, Sumatera Utara.
Negara-negara maju, tahu persis bahwa pelabuhan merupakan urat nadi perekonomian suatu daerah. Tanpa ada pelabuhan yang memadai, maka denyut perekonomian suatu daerah akan berjalan lambat. Dan ini pula yang sedang dirasakan Aceh saat ini.
Kiranya, ke depan Pemerintah dapat lebih serius memperhatikan potensi Aceh dengan membuka akses pelabuhan sebagai pusat bisnis internasional. Jika ini terwujud, tak perlu lama lagi rakyat Aceh menanti kemakmuran yang dijanjikan para pemimpinnya.