Realitas Dua Dunia Dalam Cerpen ‘Klikkk’
Di antara cerpen-cerpen yang telah tayang di Harian Serambi Indonesia setiap Minggu, saya tertarik dengan cerpen Musmarwan
“Oh, Tuhan, bagaimana caranya ini? Oh-oh-oh! Ya-ya-ya!” kau ingat.Kau masih punya baterai serap yang sering kaugunakan dulu dalam perjalanan.“Semoga dia masih ada di dalam laci meja ini.”Dan laci meja segera kaubuka. Wah! Kau menemukan baterai itu.Segera kaupasangkan pada laptop.“Semoga ia masih menyimpan arus barang sedikit.”Nah, sekarang power laptop kautekan. Blaaaaaaa! Laptop menyala.Kau mengakses internet.Membuka akun Facebook.Lalu keluar tulisan, “Mau meneruskan?Klik di sini!”Dan kau mengklik di situ. Klikkk!
Kalau saya boleh menyarankan, mungkin kalimat terakhir untuk cerpen ini cukup pada kalimat “Mau meneruskan?Klik di sini!” saja. Kalimat sesudah kalimat tersebut boleh dianggap bahwa penulis terlalu memaksakan kehendaknya. Alih-alih ingin melibatkan imajinasi pembaca, penulis tanpa ampun justru mengajak pembaca untuk mengikuti apa yang diinginkannya, tujuannya. Seharusnya biarkan saja pembaca mereka-reka sendiri. Apakah sang tokoh akan meng-klik di situ atau tidak?
*Fardelyn Hacky, penikmat cerpen, tinggal di Lambaro Angan