Balai Bahasa

Bahasa Poskolonial dalam Novel

SEDIKIT karya sastra Indonesia akhir-akhir ini yang mengulas tema-tema poskolonial (post-colonial studies)

Editor: bakri

Oleh Teuku Kemal Fasya,  Dosen antropolinguistik FISIP Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe

SEDIKIT karya sastra Indonesia akhir-akhir ini yang mengulas tema-tema poskolonial (post-colonial studies); sebuah tema dalam kajian budaya (cultural studies) yang membicarakan relasi kuasa, representasi, suara minoritas/ tertindas/subaltern sebagai pusat cerita. Kecenderungan novelis dan karakter pembaca novel saat ini memilih yang bergenre pop, baik cinta, agama, atau kebangsaan. Tentu saja tema pop renyah dan mudah dicerna.

Pelangi Musim Semi (2013), karya Rizki Affiat,seorang aktivis perempuanyang lama bekerja di Aceh, mewakili semangat poskolonial itu. Novel ini mengulas hubungan klasik Timur dan Barat yang masih tersaput stereotipe, intimidasi wacana, dan “fitnah budaya” (cultural denigration) – memakai istilah Bill Aschroft seorang profesor kajian poskolonial University of New South Wales, Australia. Novel ini mempertanyakan semangat keintiman yang seharusnya dirayakan ketika dunia semakin terbuka dan dekat dengan nilai-nilai universal seperti HAM, demokrasi, dan multikulturalisme.

Pelangi Musim Semi berkisah tentang sosok Omar Khalid, anak Indonesia lulusan FISIP Universitas Indonesia yang memiliki kesempatan kuliah lanjutan di Kennedy School of Government, Universitas Havard. Omar sendiri juga mewakili sosok yang tersayat karakter etnisitas dan kebudayaan: lahir di Indonesia tapi memi liki keturunan Palestina. Semangat membela Palestina muncul dari dirinya meskipun ia bukan warga negara yang belum diakui itu.

Pengalaman diaspora ikut membentuk karakternya karena berayah mantan diplomat dan ibu pernah bekerja di salah satu lembaga PBB. Ia sosok yang tidak memiliki identitas teritorial. Seseorang yang hidup di antara “keber-antara-an” (in betweenness); di sini dan di sana. Perjalanan kuliah di Amerika tidak menjadikannya pribadi yang tunduk kepada negeri impian dan bergaya remaja Paman Sam. Omar adalah paradoks yang banyak kita jumpai di sekeliling: berpendidikan sekuler Barat tapi tidak “terbaratisasi”. Ia mengidentifikasi sebagai seorang muslim sekaligus menolak undamentalisme.

Ia berkenalan dengan seorang gadis Amerika, AnaisSulver dan mengalami kedekatan kompleks secara intelektual dan emosional. Kisah “percintaan” mereka, dua sosok yang berbeda tradisi dan agama juga bentuk kontradiksi yang menebah nilainilai fundamentalisme dan konservatisme yang cenderung kaku dan hitam-putih. “Penghormatanku pada kefanaan manusia, pada segala yang profan menyertai keberadaan kita. Agama membuat kita menghargai proses” (hal. 14). “Paradoks keimanan itu bukan sebuah ironi. Ia seperti puisi. Tanpa paradoks, manusia hanya menjadi sebuah bidak dan budak dari sebuah dogma” (hal. 15).

Meskipun demikian, karya ini tetap sebuah novel yang terikat pada kaedah-kaedah narasi, alur, konsistensi semantik, kelugasan grafis, ketelitian deskriptif, dan dalam beberapa hal melakukan perulangan untuk mengikat asosiasi pembaca pada runtut cerita. Novel ini memiliki nilai keterbacaan yang baik - meskipun dalam beberapa hal saya harus berdiam sejenak untuk mencerna kata-kata puisi dan filsafat yang ada di dalamnya.

Pelangi Musim Semi memiliki daya deskripsi yang kuat. Ia mengambarkan detil loronglorong kampus Universitas Havard sehingga pembaca merasa dibawa masuk ke ruang-ruang kampus terkenal itu. Ia juga memasukkan beberapa pemikir dunia seperti Karen Amstrong, Noam Chomsky, George Kinsby dll dalam situasi cerita dan bukan sekedar figuran. Ia juga mengisahkan penyerangan kapal Mavi Marmara oleh tentara Israel yang terjadi ada 2010 dan Omar ada di dalamnya. Novel ini seolah-olah menjadi dokumentasi jurnalistik, padahal Omar tetap seorang tokoh fiksi yang tidak ada dalam sejarah asli Mavi Marmara.

Sebagai novel yang menitik- tekankan pada sekuens drama dan bukan eksplorasi linguistik per se, membocorkan akhir cerita kepada pembaca artikel jelas bukan pilihan bijak. Biarkan pembaca menemukan jouissance, kenikmatan membaca sastra dan ide dalam novel itu. Sebagai pembaca yang mewakili kultur Timur, kita tentu ditantang menambah gramatologi, kisah, dan ide dalam proses membaca itu. Kisah Timur yang sekarat, kisah Barat yang menghebat!

Seperti dikatakan oleh Edward W. Said, salah seorang tokoh poskolonial keturunan Palestina, hubungan Timur dan Barat sampai hari ini masih terbentuk oleh geografi imajinatif bukan demarkasi teritorial. Pelangi Musim Semi memberikan sumbangan ide dan daya cerita, terutama untuk penulis pemula agar juga menggemari tema-tema poskolonial dalam sastra

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved