Citizen Reporter
Aceh Lumbungnya Penderita Kaki Gajah
SAYA diundang oleh Perkumpulan Penyakit Tropis dan Parasitologi Malaysia untuk mengikuti simposium internasional
Oleh DR dr Muhsin Abdul Gani, Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah/Konsultan Kesehatan Bappeda Aceh, melaporkan dari Kuala Lumpur
SAYA diundang oleh Perkumpulan Penyakit Tropis dan Parasitologi Malaysia untuk mengikuti simposium internasional mengenai penyakit tropis dan parasitologi di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan yang bertajuk “6th ASEAN Congress of Tropical Medicine and Parasitology” ini mengambil tema Tantangan Global Penyakit Tropis: Menjembatani Jurang dan Membangun kemitraan.
Acaranya berlangsung di Hotel Intercontinental, dekat dengan Menara Kembar Petronas di Ampang Park. Simposium tiga hari itu dihadiri lebih dari 400 ilmuwan dari 22 negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Belgia, Australia, dan belasan negara lainnya di Asia.
Simposium yang juga bertepatan dengan ulang tahun emas Perkumpulan Penyakit Tropis dan Parasitologi Malaysia itu dibuka oleh Deputi Direktur Jenderal Kesehatan Kementerian Kesehatan Malaysia, Dr Lokman Hakim. Dalam sambutannya, Dr Lokman mengatakan, penyakit tropis dan penyakit akibat parasit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Dua contoh penyakit yang masih menyebabkan masalah di dunia, terutama di negara berkembang, adalah malaria dan demam berdarah. Kedua penyakit ini ditularkan oleh nyamuk yang menyebabkan banyak kematian, terutama pada anak-anak di seluruh dunia.
Penyakit akibat gigitan nyamuk lainnya, yakni filariasis (kaki gajah), juga masih menjadi momok bagi masyarakat di negara berkembang. Penyakit ini menyebabkan pembesaran kaki yang permanen sehingga menyebabkan ketergantungan penderita kepada orang lain.
Saya beruntung karena abstrak paper saya berjudul Interleukin-6 Diperlukan untuk Penghancuran Cacing di Masa-masa Awal Infeksi Kaki Gajah, memenangkan beasiswa untuk mengikuti acara tersebut sehingga seluruh biaya transportasi dan hotel ditanggung oleh penyelenggara. Selain saya, ada sepuluh orang lainnya yang dapat beasiswa tersebut, termasuk satu dari Indonesia dan Singapura dan dua orang masing-masing dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand.
Saya diminta mempresentasikan abstrak penelitian yang merupakan hasil penelitian doktoral saya di Jerman, di depan puluhan ilmuwan yang sedang meneliti penyakit kaki gajah. Topik ini menjadi menarik, mengingat Indonesia merupakan negara nomor dua penyumbang pesakit setelah India. Malah bila penderita kaki gajah di Indonesia dan Nigeria digabung maka akan menyumbangkan lebih dari 2/3 total kasus kaki gajah di dunia dengan jumlah kasus sekitar 120 juta orang di seluruh dunia.
Indonesia juga satu-satunya negara di dunia yang memiliki ketiga spesies cacing penyebab kaki gajah, yaitu: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Daerah kita, Aceh, menyumbang 1/5 dari total penderita penyakit filariasis di Indonesia dan tercatat sebagai provinsi dengan jumlah penderita kaki gajah terbesar di Indonesia. Dengan kata lain, Aceh memang “lumbungnya” penderita kaki gajah. Aceh Utara tercatat sebagai kabupaten dengan penderita kaki gajah tertinggi di Indonesia, menurut data Profil Kesehatan Indonesia.
Di Jerman, saya meneliti hubungan interleukin-6 (zat yang dikeluarkan oleh sel imun tubuh sebagai respons dari reaksi peradangan) dengan penyakit kaki gajah. Karena di Jerman tak ada penderita penyakit kaki gajah, kami gunakan hewan coba (tikus putih) untuk meneliti efek zat tersebut pada penyakit filariasis. Kami temukan bahwa pada awal-awal infeksi, yaitu ketika nyamuk menggigit dan cacing filaria disuntikkan oleh nyamuk melalui kulit, cacing tersebut merangsang sel-sel imun tubuh untuk mengeluarkan zat interleukin-6 yang penting untuk pembunuhan cacing yang masuk ke dalam kulit.
Hasil penelitian ini mendapat tanggapan yang sangat positif dari berbagai pihak selama seminar sehingga ada beberapa orang yang mendatangi saya setelah presentasi untuk menanyakan mengenai penelitian tersebut. Mereka juga menanyakan tentang kondisi penyakit kaki gajah di Aceh dan umumnya di Indonesia.
Presentasi tersebut juga menarik beberapa profesor dari berbagai negara, termasuk Malaysia dan India untuk berbagi ilmu mengenai keberhasilan mereka dalam mengurangi bahkan menghilangkan kasus penyakit kaki gajah di negara-negara mereka. Metode-metode tersebut sangat berharga bagi Indonesia khususnya Aceh dalam upaya mengurangi jumlah penyebaran penyakit kaki gajah dan dalam merawat penderita penyakit filariasis di daerah dan negara kita.
Lebih lanjut, Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Unsyiah juga berencana mengadakan penelitian mengenai tingkat penyebaran penyakit tersebut di Aceh dalam waktu dekat. Penelitian tersebut akan mengambil sampel di beberapa kabupaten dengan jumlah penderita kaki gajah tertinggi di Aceh. Penelitian ini nantinya bisa menjadi acuan dalam penanggulangan penyakit kaki gajah di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Semoga.
[email penulis: dr_mucin@yahoo.com]
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com